
Tentang kampung rendang, nama ini seolah menjadi nama resmi, karena ada gerbang "Selamat Datang di Kampung Rendang" ketika memasuki Jalan Tan Malaka, Lampasi, di pinggir kota Payakumbuh arah ke utara.
Berbagai varian rendang dapat dijumpai di Kampung Rendang tersebut. Setidaknya, di sini terdapat belasan pengusaha rendang rumahan dengan berbagai produk, antara lain Rendang Riri, Rendang Erik, Rendang Indah, Rendang Nan Keke, Rendang Yen, dan Rendang Yolanda.
Nah, tulisan kali ini, dalam rangka menyongsong perayaan Idul Fitri beberapa hari lagi, secara khusus mengulas keberadaan kampung nastar. Tentu, nama itu diberikan karena banyaknya pembuat kue nastar di kampung tersebut.
Meskipun nama "kampung nastar" baru resmi digunakan, dalam arti tertulis di gerbang memasuki kampung, sekitar 3 tahun yang lalu, tapi sebetulnya di sana sudah ada pelaku usaha yang memproduksi kue nastar sejak 1987.
Kampung dimaksud adalah salah satu kawasan yang berlokasi di Jalan Haji Unus, Gang Merpati 1, RT 005/RW 001, Kelurahan Larangan Utara, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Provinsi Banten.
Nama julukan itu datang lantaran sebagian besar warga yang mendiami kawasan tersebut memproduksi kue kering isi nanas atau kue nastar. Jumlah produksi meningkat drastis saat Ramadan dan mendekati Hari Raya Idul Fitri.
Rata-rata satu rumah di kampung ini dalam bulan puasa bisa memproduksi sebanyak lebih dari seribu stoples nastar, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Adapun harga nastar di Kampung Nastar saat ini, dibanderol sebesar Rp 55 ribu hingga Rp 75 ribu untuk setiap stoplesnya.
Asri, salah seorang perajin nastar mengatakan, berkembangnya produksi nastar di kampung itu bermula dari salah seorang warga yang sudah terlebih dahulu memproduksi sejak tahun 1987.