Pertama, kerabat saya ini punya penyakit asam lambung yang lumayan parah dan sering kambuh. Sejak dua hari ini, bersamaan dengan bergejolaknya asam lambungnya, ditambah pula dengan rasa sakit di tenggorokan.
Akibatnya, kerabat saya itu susah menelan makanan. Bahkan, sekadar untuk meneguk minuman, juga terasa perih sewaktu air melewati tenggorokan.Â
Wajar, bila ia dihantui ketakutan bila virus corona sudah bersarang di tubuhnya. Itulah yang membuat ia terisak sewaktu curhat.
Kedua, ia juga terbebani pikiran akan nasib anaknya yang nomor dua, yang sedang menjalani isolasi mandiri di salah satu ruangan di rumahnya.
Anaknya ini adalah seorang lelaki yang belum menikah, tapi sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta terkemuka. Putranya ini merupakan anak kebanggaan kerabat saya, dan si anak biasanya menyisihkan sebagian gajinya untuk ibunya.
Tentu hal itu sangat membantu bagi kerabat saya itu, karena uang pensiun janda setelah suaminya yang dulu seorang pegawai negeri yang bukan pejabat, tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari.
Ketiga, problem terbesar adalah pertengkarannya yang berulang-ulang dengan anak sulungnya yang bersama suaminya (manantu kerabat saya), tinggal bersama kerabat saya itu.
Memang, pernikahan anaknya tersebut, pada awalnya tidak direstui oleh kerabat saya dan juga oleh suaminya yang ketika itu masih ada.
Tapi, karena anaknya, yang memang wataknya keras, gigih memaksa, akhirnya dinikahkanlah. Padahal, secara ekonomi, mereka suami istri belum bisa mandiri, makanya masih nebeng orang tua.
Menantunya ini seorang pekerja serabutan dan ketika kerabat saya curhat itu tadi, sudah satu bulan menantunya menganggur total.Â
Sedangkan anak sulung kerabat saya ini, bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah yayasan pendidikan dengan gaji yang setengah dari ketentuan upah minimum yang berlaku.