Berbicara tentang utang pemerintah, yang sering disorot para pengamat adalah besarnya utang ke luar negeri. Sebetulnya, pemerintah sendiri sudah punya rambu-rambu dan berpendapat jumlah utang luar negeri masih dalam batas aman. Namun pihak yang menjadi oposan pemerintah, sering menjadikan masalah utang sebagai "jualan" politik.
Terlepas dari itu, utang pemerintah pada masyarakat Indonesia sendiri tentu lebih nyaman ketimbang berutang ke luar negeri. Nah, itulah yang dihimpun pemerintah melalui instrumen keuangan yang disebut dengan penerbitan obligasi (surat utang) yang dijual kepada masyarakat umum.
Paling tidak saat ini ada beberapa jenis obligasi pemerintah yang dapat dibeli oleh masyarakat, yakni Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SR), Sukuk Tabungan (ST) dan Savings Bond Ritel (SBR). Sukuk adalah obligasi berbasis syariah.
Bukan semata-mata soal rasa nasionalisme, bukan juga cuma menyangkut kepercayaan masyarakat pada pemerintah yang berkuasa, dan tidak sekadar cerminan dari budaya gotong royong kita. Namun menurut kalkulasi matematisnya, berinvestasi dengan membeli obligasi pemerintah memang mendatangkan keuntungan yang melimpah.
Pertama, memperoleh bunga secara berkala, yakni setiap bulan, dengan suku bunga di atas yang ditawarkan produk deposito bank-bank papan atas. Pajak atas bunganya pun lebih rendah ketimbang menempatkan uang di bank. Di bank terkena tarif pajak 20 persen, sedangkan pada obligasi terkena tarif 15 persen.
Kedua, saat jatuh tempo, pokok investasi akan dikembalikan seutuhnya dan dijamin sepenuhnya oleh pemerintah. Pada umumnya obligasi pemerintah berdurasi tiga tahun.Â
Ketiga, sebelum jatuh tempo pun, obligasi bisa dijual kepada orang lain, dan biasanya si penjual mendapatkan capital gain, yakni selisih antara harga jual dengan harga saat dibeli sebelumnya.
Selain itu, ya seperti yang telah disinggung di atas, inilah saatnya masyarakat bahu membahu dengan pemerintah. Inilah kontribusi masyarakat sebagai bentuk dukungannya pada pembangunan negara yang kita cintai ini.Â
Bangsa Indonesia terkenal punya jiwa sosial yang tinggi dan membeli obligasi pemerintah, meskipun bermotifkan keuntungan ekonomis, tetap ada aspek sosialnya.
Bagaimana tidak? Bukankah oleh pemerintah uang yang dihimpun dari hasil penjualan obligasi tersebut akan digunakan untuk melaksanakan berbagai program yang tujuannya bukan untuk mencari keuntungan seperti obligasi yang dijual korporasi swasta.Â
Tolok ukur keberhasilan program pemerintah adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. Makanya membeli obligasi pemerintah, ibaratnya dari rakyat untuk rakyat.