Pertemuan di Bawah Hujan
Di tengah kota yang sibuk dengan hiruk pikuknya, dengan kebisingan deru mesin yang menderu, aku duduk di sebuah kafe dengan suasana yang tenang meskipun rintik hujan sudah menemaniku sejak perjalanan menuju kafe ini, aku sedang berjuang menemukan sebuah inspirasi untuk tulisanku dengan secangkir kopi hangat yang baru saja di suguhkan oleh pelayan kafe ini, alih-alih mencari inspirasi aku malah tertarik dengan seorang laki-laki yang mencuri perhatianku sejak aku memasuki kafe ini.
Dia sedang bermain gitar di panggung itu. Alunan musik yang lembut dengan suara yang unik membuatku kehilangan himpitan kegelisahan karena kehilangan beban tenggat waktu untuk mengirim tulisanku, petikan gitar dari jemarinya berhasil membiusku. Aku memberikan senyuman singkat, ia membalasnya.
"Mia... besok kamu harus kirim" sahut Adrian dari balik telepon genggamku yang membuyarkan biusan lantunan musik yang sedang aku nikmati.
"iya..." jawabku singkat.
"besok jam 8 pagi" balasnya tegas dan langusng mengakhiri panggilan teleponnya, bahkan aku belum sempat memberikan salam yang biasanya kulakukan.
Aku masih saja belum menemukan inspirasi untuk tulisanku, meskipun Adrian telah memberikanku batas waktu yang tersisa 18 jam. Aku masih berusaha mencari-cari konsep yang tepat untuk tema tulisanku, aku berusaha melihat orang-orang disekitar, mungkin aku bisa mendapatkan inspirasi, namun mata ku tertuju pada laki-laki yang sedang turun dari panggung itu.
"dia.." teriak batinku.
"hi... terima kasih ya, sudah berhasil ngebius gue" sapaku ketika aku menghampirinya.
"mmmm... bukannya lo tadi sibuk sama laptop dan HP ya??" balasnya dengan ekspresi berfikir di wajahnya yang tampan itu.