Ditawarkanlah biji kopi ini kepada Klinik Kopi, lalu gayung bersambut manis. Kopi Lencoh dijual di Klinik Kopi dan mendapat sambutan positif dari para peminum kopi.
Saat ini Desa Lencoh pun menjadi binaan dari Klinik Kopi dengan Pak Wondo sebagai pengumpulnya. Pak Wondo sendiri memiliki beberapa pohon kopi dan karena tahu manfaat ekonomi kopi, dia antusias menanami lebih banyak kopi di kebun. Pak Wondo ingin menjadi pionir budidaya Kopi Lencoh.
Dalam trip kopi Lencoh, ada momen yang ‘menarik’. Disaat peserta sedang memetik buah kopi, ada seorang ibu yang tetiba langsung memberikan beberapa ranting dengan rentengan buah kopi. “Ini mas, kopi saya”. Waduh… Bu, Ampun... Ampuun..
Pengambilan seperti ini jujur merusak pohon kopi karena ranting yang semestinya bisa tumbuh buah lagi menjadi tidak bisa. Selain itu, buah yang diambil bercampur-campur, buah sudah merah matang, merah akan matang dan hijau mentah. Kopi yang petik merah dengan bukan petik merah jelas terasa bedanya pada rasa dan aroma khas kopi. Ah, sayang sekali.
Saya bisa memaklumi karena masyarakat di Lencoh belum mendapat pengetahuan yang benar tentang proses kopi dari tanam sampai pengolahan. Dalam kasus ini, mungkin lebih gampang memotong ranting baru kemudian memetik biji semuanya sembari duduk nikmat di rumah. Untungnya, mas Pepeng segera memberi edukasi. Ibu ini senang sekali diberi pelajaran. Sebuah pencerahan untuknya.
[caption id="" align="aligncenter" width="640" caption="Seorang ibu yang menawarkan buah kopi sekaligus rantingnya. Salah kaprah. Waduuh.."][/caption]