[caption id="" align="aligncenter" width="640" caption="Tampakan Kopi Lencoh. Kopi Arabica yang besar-besar."][/caption]
[caption id="" align="aligncenter" width="640" caption="Para peserta trip kopi antusias melakukan panen kopi. Turut serta dua warga negara AS, Ana dan kawannya."][/caption]
Di sela kunjungan ke pohon kopi yang ada di pekarangan warga Lencoh, Pak Iswondo (37) mengajak saya dan peserta trip kopi ke tanaman kopi yang sudah tua. Pohon ini cukup tinggi seperti yang saya temui saat menjelajahi kebun kopi di Manggarai, Flores, beberapa waktu silam.
“Mungkin saja, pohon ini ditanam sejak jaman Belanda. Pohon ini sisa-sisa dari penjajahan dulu” ungkap pria yang selain menjadi petani kopi juga menjadi pemandu turis ke puncak Gunung Merapi.
Saya lantas berimajinasi, sesungguhnya daerah Lencoh ini dahulunya sudah diintrodusir untuk penanaman kopi. Kondisi alam dengan ketinggian yang cocok dan tanah yang sangat subur, pantas kalau lereng Merapi sebelah utara ini ditanami kopi. Namun, barangkali seiring waktu dengan tiadanya jaringan pemasaran, warga memilih tembakau dan sayuran yang lebih pasti dari segi penjualan. Kopi pun terlupa.
Berkat Pak Iswondo, kopi asli Lencoh mulai dikenal oleh para penikmat kopi. Dia mengambil inisiasi untuk mengumpulkan biji kopi yang petik merah dari para warga kemudian mengolahnya menjadigreenbeans.