Dari diskusi ini, ada semangat untuk mendorong petani lebih peduli kepada tanaman kopinya. Lebih memiliki pada kopi yang ditanamnya. Peminum kopi pun juga bisa lebih paham dan peduli dengan realitas dari kopi di tempat tanamnya. Akhirnya, semua bermuara pada peningkatan manfaat dari kopi Lencoh.
***
Sore itu, mendung yang berselimut kabut di ketinggian menyergap akrab Desa Lencoh. Mentari hanya tampil malu-malu. Sejenak saja dia menimpakan sinarnya. Desa Lencoh adalah salah satu desa terdekat dari puncak Merapi. Hanya sekitar 3,5 km dari puncak salah satu gunung teraktif di dunia. Gerbang pendakian Merapi dari utara, New Selo, juga berada di Desa Lencoh. Dari Desa Lencoh, kita juga bisa memandang mesra Gunung Merbabu, tepat di sebelah utaranya.
Desa yang berketinggian 1500-1600 meter di atas permukaan laut ini dianugerahi oleh kesuburan tanah yang luar biasa. Tanah di sini ditumbuhi mayoritas aneka sayuran dan tembakau. Kopi tidak banyak ditanam masyarakat. Meski sesungguhnya untuk kopi arabica sangat cocok dan tumbuh subur. Saat berkeliling ke pekarangan warga dan melihat langsung buah kopi, saya terheran-heran betapa biji kopi Lencoh itu besar-besar, sekalipun tanpa pupuk atau perawatan lainnya.
[caption id="" align="aligncenter" width="640" caption="Pak Iswondo sedang memperlihatkan pohon kopi yang tua. Katanya sejak zaman Belanda."][/caption]