Erick Thohir, Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 juga pernah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya seluruh olahragawan yang bertanding di Asian Games, dengan menyebutkan ‘pahlawan olahraga Indonesia’, di Upacara Penutupan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Minggu 2 September 2018.
Di lain tempat, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, dalam berbagai kesempatan di tahun 2018, menyebut berkali-kali kontingen olahraga yang berhasil meraih juara, dengan istilah Pahlawan Olahraga Indonesia.
Dari sinilah tidak berlebihan jika para penangkar burung, secara kolektif, disebut Pahlawan Konservasi, karena dari perannya, mampu memotong siklus jual beli burung, yang dahulunya para penghobi kicauan, pengkoleksi burung, pelomba burung, mengandalkan supply berbagai jenis burung dari tangkapan burung di hutan dan alam, saat ini sudah berubah haluan, karena penangkar mampu mensupply anakan burung. Selain itu, para penangkar, mampu mengembangbiakkan berbagai jenis satwa, meski terkadang rugi waktu, materi dan permodalan, karena sejatinya proses penangkaran belum tentu mendapatkan keuntungan uang, namun kepuasan proses, hasil dan riset. Ya, Pahlawan Konservasi cukup sebagai sebutan, tidak perlu menjadi gelar formal yang melekat kepada perorangan, juga tidak perlu menerima 50juta rupiah per bulan, bagi ahli warisnya, layaknya dalam Gelar Pahlawan Nasional.
Ketiga, Pahlawan sebagai penghargaan/sukacita/ekspresi
Pahlawan, sering dilekatkan pada prestasi dan ekspresi, oleh berbagai media di Indonesia, sebut saja media DETIK.com, berita Senin 07 Februari 2011, memberikan judul “Patih Laman, Sang Pahlawan Rimba dari Riau”, atas perannya menjaga hutan, dan mencegah pembalakan liar atau penebangan liar di hutan tempatnya tinggal. Patih Laman, adalah pemimpin adat Talang Mamak yang mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Megawati Soekarnoputri. Patih Laman yang dikenal juga sebagai “orang pintar” pada November 1999 silam, mendapat anugerah tertinggi dari World Wide Fund for Nature (WWF) International for Conservation.
Terakhir, penulis pun merasa tidak bersalah jika sebagai ungkapan terimakasih yang tidak terhingga, dengan menyebut “Ibuku adalah pahlawan dalam hidupku”. (Ipan Pranashakti)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI