Beberapa kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu rumah tangga di Kabupaten Lebak berakhir dengan kepergian suami meninggalkan istri di rumah sakit dan anak-anaknya di rumah.Â
Masalah besar mumcul karena suami-suami yang kabur itu jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat.
[Baca juga: HIV/AIDS di Lebak, Banten, Banyak Terdeteksi pada Keluarga]
Lalu, apa yang dilakukan Pemkab Lebak untuk mengatasi HIV/AIDS? Menurut dr Firman: "Kita minta masyarakat memiliki kesadaran melalui pendekatan agama agar terhindar dari penyakit HIV/AIDS."
Di negara-negara yang menjadikan agama sebagai UUD pun kasus HIV/AIDS tetap ada karena risiko tertular HIV/AIDS tergantung kepada perilaku seksual orang per orang. Di Aceh dengan peraturan syariah juga terdeteksi kasus HIV/AIDS.
Yang jadi persoalan besar adalah perilaku seksual, terutama laki-laki, yang membeli seks dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung di Lebak atau di luar Lebak.
Selama tidak ada program yang bisa mengintervensi laki-laki pembeli seks agar mereka memakai kondom, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi di Lebak.
Warga yang tertular HIV kemudian jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah sebagai 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. *
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI