Masalah utang piutang telah menjadi polemik yang kerap terjadi di sekitar kita. Bahkan pemutus silahturahmi terkejam adalah terkait masalah piutang.Â
Saya pernah mengalami kondisi ini. Maksud baik memberikan pinjaman uang kepada teman, apa daya uang tak kembali, teman menghilang. Menghilang dengan memblokir kontak saya seakan takut untuk ditagih.Â
Alhasil ikhlas uang tidak kembali dan memahami karakter bahwa tidak semua orang patut dibantu. Ada saja karakter orang yang menunjukkan rasa iba berharap dibantu dengan mendapatkan pinjaman uang atau barang namun berubah berang ketika diminta mengembalikan barang yang dipinjam.Â
Berkaca pada kasus tewasnya seorang perempuan paruh baya di Makassar karena menagih utang kepada pelaku yang ternyata sepasang suami istri berusia produktif. Berawal dari kisah utang-piutang 500 ribu namun berujung maut dan penyesalan seumur hidup (Berita selengkapnya disini).Â
Hal nyesek lainnya ketika hubungan kakak-adik, orang tua-anak, saudara-kerabat hancur karena masalah piutang. Sebenarnya hal ini bisa terhindar jika pihak pengutang dan pemberi utang memiliki adab baik.Â
Saya tertarik memberikan ulasan sederhana terkait adab utang-piutang yang jarang tertulis namun wajib dipahami dan dimiliki kedua belah pihak.Â
# Adab Kesopanan Bagi Pengutang
Jangan datang dengan wajah mengiba namun angkuh ketika diminta untuk mengembalikan pinjaman. Kelak bertemu orang seperti ini, kita pasti kapok untuk membantu.Â
Adab kesopanan secara sederhana tahu etika saat meminjam dan mengembalikan. Meminjam uang atau barang tetap merendah. Masih ada orang yang niat hati meminjam sesuatu tapi berlaga songong dan seakan tidak butuh bantuan padahal kenyataan sebaliknya.Â
Tolong, maaf, dan terima kasih adalah tiga kata kunci yang bisa menjaga kesopanan kita saat meminjam sesuatu.Â