Diskusi bersama Wasisto Raharjo, senin lalu, membahas tentang kekuatan media sosial dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat Indonesia pada pemilu 2014. Fenomena Pemilu 2014 telah membuat sebuah perubahan terhadap masyarakat kelas menengah yang dikenal sebagai masyarakat apatis terhadap politik. Kekuatan media sosial pun telah membuat masyarakat Indonesia mengenal lebih dekat sosok calon Presiden dengan karakternya masing-masing, yang kemudian melaluinya, terbentuklah sebuah framing mengenai dua sosok tersebut.
Tidak lain adalah Presiden Joko Widodo, akrab dipanggil Jokowi, yang kemudian berhasil membangun popularitasnya sebagai seseorang yang populis. Hal ini dipahami sebagai suatu angin segar dalam perpolitikan Indonesia, karena setelah beberapa periode dipimpin oleh Presiden yang didominasi oleh latar belakang militer, kini muncul seseorang yang menjadi antithesis terhadap rezim yang bersifat elitis, oligarki, dan otoritarianisme. Sehingga pendekatan Jokowi di tahun 2014 dalam masa kampanyenya membawa semangat baru terhadap masyarakat kelas menengah untuk membawa Indonesia menuju perubahan yang lebih baik, secara inklusif.
Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kejenuhan masyarakat kelas menengah akan adanya korupsi di kalangan elit, yang kemudian dipahami sebagai sebuah wacana hegemonik dalam membangkitkan voluntarisme mereka untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Media sosial, merupakan sebuah perantara yang dianggap paling berperan dalam penyebaran semangat egalitarisme. Dikarenakan penetrasi internet di Indonesia sangat masif, masyarakat dapat mengakses berita tentang apapun dan kapanpun. Hal ini pun diperkuat dengan fakta bahwa intensitas masyarakat kelas menengah mengakses media sosialnya yang sangat intensif.
Namun hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah yang sebenarnya menjadi titik kemenangan dari Jokowi dibanding dengan rivalnya, Prabowo di Pemilu 2014? Tak lain adalah karakter Jokowi yang bersifat spontan dan sporadis. Dalam artian, kampanye yang dilakukan Jokowi adalah inovasi yang dihasilkan dari analisis segmen masyarakat yang baik. Kaarakteristik Jokowi yang dianggap genuine, sincere membangun citranya sebagai seseorang yang tidak hanya ingin memiliki otoritas karena ambisinya semata, melainkan seseorang yang memiliki afeksi terhadap masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Â
Ditulis oleh: Anisa Indah Pratiwi, Hubungan Internasional Unpad 2013
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H