Terjadinya bencana nonalam virus corona atau covid-19 telah menciptakan pergeseran kebiasaan manusia. Meskipun pergeseran tersebut dirasa menyusahkan dan lebih bersifat negatif karena merubah tatanan yang sudah ada, bila diresapi ternyata persepsi tersebut tidak seluruhnya benar.Â
Saya sendiri merasakan, tentu sebelumnya sulit menerima kebiasaan yang baru tersebut. Apalagi saya yang berkecimpung di dunia pendidikan, sangat merasakan dampak covid-19 ini.
Biasa melakukan pembelajaran secara konvensional atau tatap muka langsung, sekarang mau tidak mau dihadapkan dengan pembelajaran jarak jauh yang sangat mengandalkan teknologi sebagai media pembelajaran.Â
Mulai dari pembelajaran menggunakan media komunikasi whatsupp hingga aplikasi schoology, yang keduanya sangat tergantung dengan kuota internet. Tidak dapat dimungkiri, hadirnya internet telah memberikan manfaat besar bagi kehidupan, apalagi di tengah pandemi covid-19 yang tengah berlangsung.
Tinggal di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya Sragen yang lumayan jauh dari kota, membuatku harus selektif memilih kuota internet dengan koneksi lancar plus harga bersahabat dengan kantong, mengingat gaji mengalami pemotongan karena pandemi. Untungnya saya memilih kartu Tri untuk #kalahkanjarak akibat pendemi covid-19.
Layanan Jaringan 3 Indonesia sangat memudahkan dalam pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran atau diskusi bersama siswa melalui whatsupp berjalan lancar.Â
Menggunakan schoology tidak menemukan kendala yang berarti. Seperti mencari materi tambahan dari internet, mengolahnya menggunakan aplikasi android yang menurut saya hasilnya lebih menarik meskipun kuota internet harus daring terus, tidak masalah bila menggunakan kartu Tri.Â
Lalu materi saya unggah dalam bentuk teks, presentasi ppt, dan sesekali video. Selain pembelajaran daring, guru tentunya memerlukan banyak komunikasi dengan guru lain. Rapat kelulusan siswa kelas XII sampai pembagian rapor yang sebelumnya diisi pengajian, kami lakukan melalui aplikasi zoom.
Pergeseran kebiasaan yang terjadi tiba-tiba ini awalnya membuat saya pesimis, apakah saya mampu merubah gagap teknologi menjadi melek teknologi.Â
Menjadi pekerjaan rumah bagi saya dan pendidik lain yang masih canggung menggunakan teknologi. Karena saat ini dunia pendidikan harus selalu mengikuti perubahan zaman. Tepatnya mengikuti perkembangan teknologi. Dengan begitu peserta didik ikut memahami teknologi dan kelak mampu menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia.
Aturan pemerintah agar selalu jaga jarak jika keluar rumah dan sangat disarankan untuk tetap di rumah, membuat saya lebih banyak di rumah. Awal penerapan bingung apa yang harus dilakukan, apakah saya memilih untuk banyak rebahan atau mencari kesibukkan dadakan untuk mengisi masa pandemi ini.Â
Pertama tentunya melakukan hobi, berhubung saya suka membaca buku, kuputuskan untuk lanjut baca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Berhubung persediaan buku habis, akhirnya saya membeli buku melalui layanan daring. Masuk toko buku daring, waktu itu beli novel Girl in the Dark karya Akiyoshi Rikako yang bergenre misteri.Â
Saya sempat berpikir ketika masuk toko daring tersebut akan susah dan lambat, mengingat ukurannya yang besar, tapi dengan Tri aku menjawab tidak. Karena cepat responnya dan sampainya.Â
Biasanya juga, setelah baca sebuah buku yang menurutku bagus, lantas saya buat video yang mengulas buku tersebut lalu diunggah di youtube. Kadang  saya ulas dalam bentuk tulisan dan diunggah di kompasiana.com. Lagi-lagi tidak ada kendala dan sangat lancar.
Rasa untuk lebih produktif menggiringku menemukan hobi baru, yaitu berkebun. Latar belakang keluarga yang seorang petani, memantikku mencoba bercocok tanam. Aku saat ini menanam berbagai macam sayuran. Mulai dari tomat, cabai, kacang-kancangan, terong, kangkung, dan masih banyak lagi.
Berkebun yang kelihatannya gampang ternyata harus banyak belajar. Sekarang belajar berkebun tidak harus tanya ke ahlinya, apalagi dengan tatap muka langsung. Lebih efektif belajar melalui media internet. Bisa baca-baca artikel, melihat tata cara di youtube, atau tanya ke ahlinya lewat media sosial.Â
Itu yang kulakukan ketika mengalami kebingungan kenapa daun tomat menguning. Atau mengetahui komposisi media tanam yang bagus untuk tanaman. Bila sudah sesuai, hasil panen akan melimpah dan lebih sehat bagi tubuh. Lalu tinggal di masak, lagi-lagi saya terbantukan dengan kartu Tri karena membaca resep dan cara membuat masakan saya cari tahu secara daring.
Masa pandemi covid-19 telah menciptakan kebutuhan baru manusia. Tidak dimungkiri saat ini koneksi internet adalah kebutuhan baru tersebut, dan telah masuk dalam kebutuhan sekunder, bahkan sebagian orang menganggap kebutuhan primer.Â
Hal ini membuat perusahaan layanan kuota internet berbondong-bondong memerbaiki jaringan internetnya demi kenyamanan masyarakat. Salah satunya kartu Tri yang sekarang telah menjangkau di seluruh pelosok negeri. Karena menerapkan teknologi 4.5G LTE, yaitu menghasilkan jaringan 3 kali lebih kuat, lebih jelasnya bisa kunjungi www.tri.co.id atau link bit.ly/2XqKZMI.Â
Terbukti terbantunya saya di masa pandemi ini, karena semua aktivitas daring yang saya lakukan lancar.
Harga yang ditawarkan begitu ramah, saya beli 1GB hanya Rp7000,00 saja dan sekarang masih belum habis, padahal setiap hari membuka youtube dan instagram.Â
Tidak sampai di situ, hadirnya produk AlwaysOn membuat saya tidak perlu beli paketan lagi hanya karena takut masa aktif paket internet telah habis. Karena Tri memiliki masa aktif yang lebih lama dari kartu lain.
Perubahan-perubahan yang terjadi karena virus corona tidak seharusnya membuat kita tenggelam dalam keterpurukan. Singkirkan hal-hal negatif, jadikan hal tersebut sebagai upaya perbaikan diri.Â
Mulailah beradaptasi terhadap kebiasaan baru yang tentunya positif. Seperti pemanfaatan internet dalam kehidupan manusia. Bersama Tri kita KalahkanJarak di masa pandemi covid-19 untuk selalu produktif.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI