Pendidikan merupakan proses pembelajaran dan penanaman karakter. Â Tetapi pada prosesnya banyak hal yang keliru dalam menyikapi masalah yang timbul didalamnya. Banyak orang tua/wali siswa mudah percaya begitu saja kesatu pihak tanpa mencari bukti-bukti yang sebenarnya atau intinya tidak melakukan konfirmasi kepihak terkait misalnya kepada dua belah pihak, dan saksi-saksi, sehingga tidak mudah orang tua memutuskan melaporkan guru ke polisi, hanya karena langsung percaya pada aduan anaknya. dan juga guru tidak mudah melakukan kekerasan pada anak.
Karena memang sejatinya seorang guru tidak boleh melakukan kekerasan atau aniaya kepada para siswanya meski untuk mendisiplinkan. Tapi yang diperbolehkan dalam dunia pendidikan yaitu hukuman fisik. Hukuman fisik (bisa berarti push-up, lari keliling lapangan, membersihkan atau menyapu perpustakaan), dan sebaiknya disepakati bersama oleh guru dan murid serta diinformasikan juga pada orang tua.
Para orang tua atau guru, Â ketika ada permasalahan sebaiknya keduanya mencari tau sebab musabab suatu permasalahan. Dan pelanggaran yang dilakukan siswa tentu saja boleh diberi sanksi oleh guru sesuai aturan atau tata tertib sekolah, tetapi hukumannya bisa diganti dengan konsekuensi sehingga jika seorang siswa melakukan pelanggaran, dia harus bersedia menerima konsekuensinya dan sebaiknya, dalam menentukan konsekuensi, pihak sekolah harus mendengarkan suara dan pendapat para siswanya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H