Mohon tunggu...
Beryn Imtihan
Beryn Imtihan Mohon Tunggu... Penikmat Kopi

Saat ini mengabdi pada desa. Kopi satu-satunya hal yang selalu menarik perhatiannya...

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ketika Introvert Mengucap Minal 'Aidin: Ada Suasana Hati yang Tak Terkatakan

1 April 2025   03:46 Diperbarui: 1 April 2025   07:13 237
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (Sumber: kompas.com/ramadhan/read/2020/05/16/030200372/masih-dilanda-covid-19-bolehkah-tidak-bersalam-salaman-saat-hari-raya?page=all)

Lebaran selalu menghadirkan momen-momen yang sulit dilupakan. Silaturahmi, tawa anak-anak, dan aroma masakan khas Idul Fitri menjadi bagian dari perayaan yang akrab. Namun, di antara itu semua, ada satu hal yang selalu saya nantikan: ucapan minal 'aidin dari adik saya.

Dia bukanlah seseorang yang banyak bicara. Sejak kecil, ia memang pendiam, berbeda dengan anggota keluarga lainnya yang cenderung ekspresif. Dalam setiap pertemuan keluarga, ia lebih banyak mengamati dan tersenyum, jarang sekali berbicara, apalagi bercerita panjang lebar.

Kami terpaut dua tahun. Selisih usia yang tidak terlalu jauh, tapi cara kami menghadapi dunia terasa bertolak belakang. Saya suka berbagi cerita, dan melibatkan diri dalam percakapan. Dia sebaliknya, seolah lebih nyaman dalam dunianya sendiri.

Sejak kami beranjak dewasa dan masing-masing berkeluarga, momen mengucap minal 'aidin di hari raya menjadi sesuatu yang selalu saya tunggu. Bukan karena ingin mendengar pengakuan kesalahan, melainkan karena ingin melihatnya mengucapkan kata-kata itu.

Tahun demi tahun, Lebaran demi Lebaran, ia selalu melakukan hal yang sama. Menghampiri, bersalaman, tersenyum, lalu berlalu. Tidak ada kata yang terucap. Seolah baginya, kata minal 'aidin terlalu berat untuk dilontarkan.

Sesekali, dalam beberapa Lebaran yang telah lewat, saya pernah mendengar suaranya pelan menyusup di antara genggaman tangan dan senyumannya. Kata minal 'aidin yang ia ucapkan terdengar begitu berat, seakan butuh usaha besar untuk keluar dari bibirnya.

Lebaran kali ini pun tidak berbeda. Ia datang, menyalami saya, tersenyum, dan sejenak terdiam. Saya menunggu. Lalu dengan sangat pelan, ia berkata, “minal 'aidin.” Singkat, nyaris tak terdengar, tetapi begitu bermakna.

Saya tidak tahu apa yang membuatnya sulit mengucapkan minal 'aidin. Mungkin karena sifatnya yang pendiam atau ada beban emosional yang tak bisa ia ungkapkan. Yang saya tahu, kata itu pasti memiliki makna mendalam baginya. Ia bukan orang yang mudah berbicara, apalagi mengekspresikan perasaan.

Setelah kata itu terlontar, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Rasa lega, haru, sekaligus syukur. Bukan hanya karena akhirnya ia mengucapkannya, tetapi karena saya tahu betapa besar usaha yang ia keluarkan untuk melakukannya.

Mengucap minal 'aidin atau meminta maaf bukanlah hal yang mudah bagi semua orang. Bagi sebagian, ini hanya formalitas. Namun, bagi yang lain, ini adalah perjuangan batin yang tidak sederhana. (Goleman, 1995)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun