Guru bergerak menggerakkan
Menjadi guru adalah panggilan hati
Menjadi guru adalah pengabdian
Kalimat-kalimat tersebut santer menjadi label untuk profesi guru.
Ketika saya masih duduk dibangku sekolah dasar, saya pernah bercita-cita untuk menjadi guru. Saya sangat menyukai saat guru saya dengan sabarnya mengajar siswa dan menjawab setiap pertanyaan dari anak didiknya hingga akhirnya kami menjadi anak yang berpengetahuan dan berbudi pekerti yang baik.Â
Atas dasar keinginan semasa kecil itulah setelah habis kontrak dari salah satu perusahaan saya memutuskan untuk bekerja di sekolah. Saya menjalani pekerjaan dilingkungan sekolah dengan senang hati. Begitu waktu gajian tiba, akhirnya saya bisa bersimpati dengan kalimat 'menjadi guru adalah panggilan hati'.Â
Bagaimana tidak? Nominal yang kecil dan sering diberikan tidak sesuai dengan waktunya (ngaret) benar-benar mencirikan kalimat itu. Bahkan, nominal honor yang saya dapat tidak mencukupi biaya semester yang bisa dicicil setiap bulan.
Hal yang membuat saya akhirnya menulis artikel ini didasari oleh rasa prihatin terhadap nasib murid didik dimasa depan.
Karena jumlah honor yang sangat kecil, kebanyakan guru lebih mementingkan untuk menjalani kegiatan lain dan memilih untuk izin mengajar. Hal ini merupakan hal yang bisa dimaklum namun tidak bisa dimaklum sekaligus. Bisa dimaklum karena guru juga memiliki kehidupan yang harus dinafkahi, tidak bisa maklum karena mengajar merupakan kewajibannya.Â
Lantas bagaimana solusinya?
Negara Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab adalah beberapa negara yang menghargai pekerjaan guru. Mereka memberikan honor yang pantas dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang guru sehingga guru bisa fokus mendidik tanpa harus memikirkan tuntutan hidup.Â