Mohon tunggu...
Imam Prasetyo
Imam Prasetyo Mohon Tunggu... -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Saya muslim

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tuan Jokowi, Jangan Sakiti Ummat Muslim!

25 November 2016   08:51 Diperbarui: 25 November 2016   09:09 815
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Tuan Jokowi, sekedar mengingatkan bahwa saat Tuan disumpah untuk menjadi Presiden Republik Indonesia adalah Quran yang agung diatas kepala dan mulut berkata akan setia kepada Nusa dan Bangsa, bukan pula kitab suci yang berada di atas kepala Ahok saat meneruskan pekerjaan yang Tuan tinggalkan.

Didalammnya ada ribuan ayat yang seharusnya bisa Tuan pergunakan untuk memperbaiki bangsa, sebut saja tentang pemimpin yang adil, bijaksana dan amanah.

Penghinaan yang dilakukan kolega Tuan sungguhlah menyakiti ummat yang percaya bahwa kitab yang Tuan pergunakan saat bersumpah bukanlah terisi tentang cara menaiki kuda untuk menghiba atau menjamu makan para pendusta. Didalamnya adalah cara berperang kepada mereka yang menghina dirinya (al Quran) dan tentu saja cara untuk menjaganya.

Jadi Tuan, sudahilah mulut Tuan berkata keji dan hina bahwa cara kami menjaga marwahnya adalah upaya untuk menggulingkan Tuan. Bukankah setiap kali Tuan bercermin bisa memandang betapa ringkih dan kurusnya Tuan? Yang gemuk dan tambun adalah para penyorak Tuan, lihat saja yang brewoknya tidak tertata yang bahkan kedua paha tidak bisa dirapatkan karena begitu tambunnya? Atau wanita yang lupa cara mendiamkan anak yang tengah merajuk begitu pongah dengan senyumnya? Satu kali tiupan amarah kami tumbanglah Tuan.

Jangan sakiti hati kami Tuan, karena bagi kami meminta kepada Kuasa untuk diturunkan api seperti dinegara paling hina diujung sana yang terkurung api dan kehilangan asa untuk memadamkannya. Tuhan kami begitu dekat dengan dengan bibir kami yang semakin intens melafadzkan permintaan ampun atas perjuangan kami yang belum maksimal. Tuhan kami bukanlah Anda, Tuan.

Jangan takuti dengan kematian Tuan, karena kami akan kembali lagi dari kematian begitu berulangkali dan seterusnya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun