Dr KH Mashar dan para daiya PKD 7 LDNU sedang makan bersama 16 Agustus 2017 di Lt 8 Gedung PBNU , Jakarta, foto dokumen pribadi
Di Kelas Kajian 7 ini memang serba beruntung, kalau kekhalalan makanan kami pastikan tidak ada keraguan sedikitpun alias sangat bisa percaya kepada para ustadzah, karena beliau-beliau ini adalah pakarnya dalam memilih makanan yang khalal untuk dikonsumsi. Demikian juga tentang kandungan gizi, kesehatan makanan yang akan kita konsumsi, apakah memenuhi standar minimum 4 sehat 5 sempurna, disitu ada dr Khusnul, pasti beres dah, jangan sekali-kali ragu, beliau ini ahlinya.
Untuk urusan mondar mandir membagikan minuman, dan pekerjaan lainnya yang agak berat misalnya mengumpulkan sampah-sampah (bungkusan nasi, lauk pauk) ya para ustad dan ustadzah mereka semua sudah pada dewasa, jadi tahu dirilah, mosok iya membuang sampah saja menyuruh orang, tanggung jawab lah sedikit-dikit, karena kebersihan adalah pangkal kesehatan. Nah sekarang adakah makna lain dalam makan siang bersama yang di prakarsai oleh daiyah-daiyah muda khususnya mabak Danning dan dr Khusnul.
Merajut Kebersamaan dengan makan bersama, Pak Suud dan Habib Mustopa, Pak Muhammad Syarifudin, Mas Billi, tampak geasyik . Dokumen pribadi
Kalau di poliklinik atau di Puskesmas dokter Chusnul sebagai dokter tentu berurusan dengan pasien dan mba Daning di kantor lebih banyak mengurusi administrasi perkantoran, lalu adakah kepentingan yang lebih besar dari usaha mereka berdua dengan mengadakan makan siang bersama para ustad, ustadzah dan Pak Kiyai. Ternyata dibalik itu semua, ada maksud yang sungguh terpuji, yaitu "Kebersamaan". Kebersamaan di negeri ini, Indonesia tercinta menjadi tanggung jawab kita bersama khususnya para dai dan daiyah. Dampak positipnya kebersamaan akan melahirkan persatuan dan kesatuan yang kokoh, menghilangkangkan sekat-sekat perbedaan dan konflik.
Siap siap menghitung dan membagi makan siang semoga dicukupkan, kerja keras mba Daning
Jika hanya membangun kebersamaan sesama Nahdliyin tentu saja tidak terlalu berat, tetapi sebagai bagian dari kebersamaan yang lebih luas sangat diperlukan latihan-latihan dasar secara kontinuitas. Satu diantaranya adalah melalui acara makan bersama. Setelah itu baru melangkah kepada pekerjaan yang sekupnya lebih luas, antara lain memperkokoh kebersamaan sesama umat islam dari berbagai mazhab, membangun kebersamaan antar umat beragama dengan selalu menjalin silahturahmi, membangun kebersamaan antar etnis, membangun kerbersamaan antar bangsa, tujuan akhirnya adalah membangun kebersamaan untuk memperkokoh NKRI.
Berdoa bersama setelah makan siang, dipimpin oleh Dr KH Mashar MA
Di kelas kajian ini mereka berdua berusia paling muda, bukan saja termuda, Mereka berdualah yang sering mengurusi acara makan siang agar berjalan lancar dan penuh kebersamaan. Walaupun dengan mengorbankan hartanya untuk membeli nasi dan lauk pauk, kerja ekstra keras dan menyita banyak waktu, tetapi ikhlas, apalagi dalam saat-saat makan bersama, semua merasakan yang disajikan terasa enak dan nikmat, dan sungguh sangat membahagiakan. Sumbangsih mereka berdua kepada peserta kajian PKD 7 terutama kepada LDNU, melalu acara makan siang bersama intinya adalah membangun "Kebersamaan" patut kita apresiasi. Kiranya cukup pantas para daiyah PKD 7 LD NU mendapat sanjungan sebagai "Pejuang Kebersamaan"
Jakarta, 22 Agustus 2017.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI
Lihat Humaniora Selengkapnya