Bullying : Menyikapi dan Melawan
Lalu, bagaimana aku bisa bertahan?
Aku adalah anak disleksia-ADHD yang tumbuh di sekolah dengan sistem yang tidak ramah pada keberagaman cara belajar. Setiap hari, aku berjalan ke kelas dengan perasaan cemas, bukan karena aku tidak mau belajar, tetapi karena aku tahu aku akan ditertawakan. Aku sering tertinggal membaca di depan kelas, huruf-huruf menari dan melompat seperti ingin mempermainkanku. Saat teman-teman selesai mengerjakan soal, aku masih sibuk mencoba memahami instruksi di lembar soal yang terasa seperti labirin tanpa pintu keluar.
Di sekolah, aku sering disebut "bodoh", "lambat", atau "pengganggu." ADHD membuatku sulit duduk diam, tanganku selalu bergerak, mulutku terus bicara meski aku tahu guru sedang menjelaskan di depan kelas. Aku dicap cari perhatian, padahal aku hanya sedang berjuang melawan suara-suara riuh di kepalaku yang tidak pernah mau diam. Suara-suara itu saling berebut, sampai aku sendiri bingung, mana yang harus kudengar lebih dulu: suara guru, suara teman-teman yang mengejek, atau suara diriku sendiri yang terus berkata, "Aku nggak cukup pintar."
Tapi di rumah, semuanya berbeda. Aku punya seorang ayah yang percaya padaku lebih dari aku percaya pada diriku sendiri. Ayahku bukan tipe orang yang langsung memarahi saat aku malas mengerjakan PR atau kesulitan membaca buku. Ia tahu aku bukan malas, aku hanya butuh cara yang lain cara yang lebih cocok buat anak sepertiku. Setiap malam, ia duduk di sampingku, membacakan buku yang sama berulang-ulang, dengan sabar yang entah ia ambil dari mana. Tangannya hangat, membimbing jariku mengikuti baris-baris kalimat yang terus kabur dan terbalik di mataku. Ketika aku frustasi, ia hanya tersenyum dan berkata:
"Kita cari cara yang cocok buat kamu, Nak. Bukan kamu yang harus berubah, tapi caranya yang harus menyesuaikan kamu."
Dan ayahku benar-benar melakukannya. Ia tidak memaksaku belajar hanya dengan duduk di meja dan menulis. Ia membawaku ke sungai belakang rumah, mengajakku membuat perangkap ikan dari bambu. Sambil merancang bentuk perangkap, ayah mengajarkan aku menghitung ukuran bambu, mengukur sudut, dan mengatur jarak antar ruas. Matematika tidak lagi sekadar angka di buku, tetapi menjadi jembatan untuk menangkap ikan-ikan kecil yang kemudian kami lepaskan kembali. Di situ aku sadar, belajar itu bisa menyenangkan kalau caranya disesuaikan denganku.
Ayah juga mengajakku ikut lomba Kakang-Mbekayu Banyumas, duta wisata kebanggaan daerah kami. Di panggung itu, aku yang dulu selalu gemetar di depan kelas justru berani berdiri anggun, menjelaskan sejarah, budaya, dan pariwisata Banyumas di depan juri dan ratusan pasang mata. Aku belajar berbicara dengan percaya diri, mengatasi grogi, sekaligus membuktikan bahwa anak disleksia-ADHD pun bisa menjadi duta kebanggaan daerahnya.
Dari ayahku, aku belajar bahwa aku punya hak untuk belajar dengan cara yang berbeda. Jika membaca sulit, aku mendengarkan buku audio. Jika menulis menyiksa, aku berbicara lebih banyak dan merekam suara sendiri. Aku membuat mind map warna-warni di dinding kamar, mengubah pelajaran yang rumit jadi gambar-gambar sederhana. Aku menemukan caraku sendiri untuk bertahan bukan dengan meniru teman-teman lain, tetapi dengan menciptakan jalanku sendiri.
Disleksia dan ADHD mengajarkanku bahwa aku bukan rusak, aku hanya dirancang berbeda. Aku bukan sekadar korban bullying, aku adalah pejuang yang sedang memahami kekuatanku sendiri. Pelan-pelan, aku belajar menyuarakan hakku di sekolah, meski sering dibalas tatapan sinis dari guru-guru dan tawa mengejek teman-teman. Aku belajar bahwa bertahan bukan berarti diam, tetapi melawan melawan stigma, melawan label, dan melawan ketidakadilan yang membuat anak-anak seperti aku terus merasa kecil.