Lionel Messi. Foto: twitter.com/PSG_inside dipublikasikan Kompas.com
Lionel Messi sudah ke Paris. Dia sudah resmi berseragam Paris Saint-Germain (PSG). Saya berharap, kedatangan Messi akan menetralkan olok-olok Liga Prancis yang disebut Liga Petani. Â
Sebutan Liga Petani pada Liga Prancis adalah olok-olok. Ledekan ini diberikan karena Liga Prancis tak menarik, cenderung dikuasai satu tim.
Di masa beberapa tahun belakangan, PSG adalah tim yang sering juara Liga Prancis. Meledek liga bagi saya adalah hal biasa. Yang saya ngilu (tentu saja subjektif), kenapa kata yang dipakai untuk mengolok-olok adalah "petani".
Saya bukan petani. Saya hanya lelaki yang hidup berdampingan dengan para petani. Kadangkala saya membantu petani, sekadar ikut angkut atau mengeringkan gabah.
Saya paham, beratnya jadi petani. Berat secara fisik dan ekonomi. Saya pun tak sanggup bekerja sebagai petani karena fisik yang tak memadai.
Apa beratnya jadi petani? Banyak sekali. Harus angkut gabah berkilo-kilo dan diterjang panas. Jika musim kemarau harus memburu air, bagi daerah yang aliran airnya tak maksimal.
Memburu airnya pun dilakukan dinihari dengan angin yang menusuk tulang. Jika tak kondusif dalam perburuan itu, antar petani bisa "berebut" aliran air.
Petani harus melawan hama. Hama yang paling berat adalah wereng. Jika hama menggejala, panen pun bisa anjlok. Nanti ketika panen, harga gabah kadang anjlok. Selain itu, masih banyak kesulitan dan beratnya menjadi petani.
Kerja berat itu, hasilnya kita beli. Orang Indonesia masih menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Kerja berat, hasilnya kita makan, tapi kita merendahkan petani. Itu namanya ironi, menyedihkan, dan ngilu.
Di dunia bagian mana saja, hasil petani itu untuk mengisi perut masyarakat. Entah itu petani padi atau petani untuk tanaman lain. Hasilnya pasti untuk mengisi perut masyarakat.