Salah satu tahapan dalam kontestasi pemilihan presiden (pilpres) adalah acara debat terbuka. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata punya strategi saat debat Pilpres 2009. Strategi ini bisa saja masih layak dan bisa digunakan calon kepala daerah di Pilkada 2020. Seperti diketahui, dalam pilkada pun ada tahapan debat terbuka.
SBY mengungkapkan salah satu strategi dalam debat terbuka Pilpres 2009. Saat itu, debat menjadi yang kedua kalinya dalam kontestasi pilpres. Sebelumnya debat pilpres dilaksanakan pada 2004. Debat Pilpres 2009 diikuti pasangan SBY-Boediono, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla-Wiranto.
Debat dilaksanakan oleh KPU dan disiarkan langsung oleh televisi nasional. Dalam bukunya "SBY Selalu Ada Pilihan", SBY mengungkapkan satu strategi kala debat pilpres. Dia menuliskan bahwa pilihannya dalam debat capres adalah tidak agresif dan menyerang.
SBY menilai bahwa biasanya rakyat malah tak suka jika ada calon yang agresif, kasar, dan bernafsu menyerang. Dia menilai bahwa hal seperti itu bukan budaya Indonesia. Secara tak langsung pernyataan SBY ini ingin mengatakan bahwa budaya di Amerika Serikat yang capresnya saling serang, tak selalu cocok dengan pemilih di Indonesia.
Maka, SBY pun mengungkapkan bahwa dia memilih strategi defensif aktif kala debat pilpres. Strategi ini bukan strategi agresif, tapi kalau diserang akan memberi respons. Saat merespons inilah digunakan untuk mematahkan argumentasi calon lain dengan kedalaman materi dan tetap santun. Saat merespons pun tidak menunjukkan bahasa tubuh yang sombong.
Tentu saja ini adalah pendapat pribadi SBY. Artinya pihak lain pun bisa jadi memiliki strategi yang berkebalikan. Namun, mengingat SBY mampu memenangi pilpres dua kali, maka strategi ini bisa juga direnungkan. Khususnya oleh mereka yang akan berkontestasi di Pilkada 2020.
Para calon di Pilkada 2020 tentu diharapkan mengerti karakteristik para pemilihnya. Ketika karakteristik pemilihnya cenderung tak suka dengan calon yang agresif, maka cara yang dilakukan SBY ini bisa dicontek. Namun, jika pemilihnya adalah mereka yang suka dengan hal-hal agresif, bisa jadi cara selain yang dilakukan SBY bisa dipertimbangkan.
Tentu saja, sebelum memilih apakah akan agresif atau defensif aktif, kandidat harus mengetahui wilayah dan masyarakatnya. Nah di sinilah calon yang mengerti karakter masyarakat dan wilayahnya akan memiliki keuntungan. Kandidat di pilkada yang paham dengan kondisi sosial budaya akan bisa menemukan strategi yang bagus saat debat pilkada.
Selain strategi itu, kedalaman yang diungkapkan SBY juga patut diperhitungkan. Kedalaman materi, kedalaman menguasai persoalan dan memberikan solusi adalah barang dagangan yang bagus ketika debat di pilkada. Kandidat yang cenderung gagap, bisa jadi makanan empuk setelah debat selesai. Kandidat yang tak memiliki kedalaman akan jadi sorotan tajam di media massa dan media sosial.
Arena Tebar Pesona
Bagi saya, pilkada di masa pandemi membuat sosialisasi dan kampanye tak maksimal dilakukan. Maka, ketika debat kandidat yang disiarkan di media massa elektronik bisa jadi arena tebar pesona. Maksudnya, debat ini jadi kesempatan paling berharga bagi kandidat. Mengingat sosialisasi turun ke lapangan jelas akan dikurangi.