Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penulis - Penulis 1070 lebih artikel dan 55 buku, trainer menulis, dan mengisi berbagai seminar/ workshop menulis, pendidikan, dan peningkatan mutu guru, baik di daerah maupun nasional.

Penulis 1070 lebih artikel dan 55 buku, trainer menulis, dan mengisi berbagai seminar/ workshop menulis, pendidikan, dan peningkatan mutu guru, baik di daerah maupun nasional.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Uji Keterbacaan Naskah Buku

8 Desember 2020   10:43 Diperbarui: 8 Desember 2020   10:48 274
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

UJI KETERBACAAN NASKAH BUKU

Oleh: IDRIS APANDI

(Penulis dan Editor Buku)

 

Buku merupakan salah satu sumber belajar. Bentuknya bisa dalam bentuk cetak (hardcopy) dan digital (soft copy). Sebuah buku yang disusun tentunya disesuaikan dengan tujuan, kebutuhan, peruntukkan, atau sasaran pembacanya. Ada berbagai macam bentuk buku, seperti buku pelajaran, buku teks, buku referensi, buku pedoman, buku panduan, dan sebagainya.

Menulis sebuah buku yang berkualitas bukan hal yang mudah. Perlu proses panjang. Mulai dari proses menulis, menyunting (editing), hingga buku tersebut layak diterbitkan. Bahkan untuk buku-buku tertentu, selain editing dari penulis, editing dari penerbit, atau editing dari lembaga yang akan menerbitkan buku tersebut, ada juga telaah (review) dari ahli pada bidangnya masing-masing.

Buku yang akan diterbitkan oleh sendiri atau beberapa orang pada umumnya langsung diterbitkan setelah dinyatakan layak oleh editor penerbit, tetapi pada buku yang akan diterbitkan oleh sebuah lembaga baik lembaga swasta atau pemerintah, ada proses yang disebut dengan uji keterbacaan naskah buku. Tujuannya, agar naskah buku tersebut benar-benar layak untuk diterbitkan, tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan pembaca.

Peserta uji keterbacaan biasanya adalah sampel atau perwakilan pihak yang akan menjadi pembaca buku tersebut. Misalnya, kalau buku yang akan terbitkan untuk para guru, maka peserta uji keterbacaannya adalah perwakilan guru supaya hasilnya pun bisa relatif menggambarkan hasilnya secara objektif secara proporsional.

Sebelum uji keterbacaan sebuah naskah buku dilakukan, biasanya disusun terlebih dahulu instrumennya. Penyusunnya bisa para penulis buku itu sendiri atau orang/tim khusus yang ditunjuk. Sebelum instrumen tersebut digunakan, biasanya dilakukan kajian atau uji coba penggunaan instrumen agar instrumen tersebut valid, reliabel, dan sesuai dengan harapan.

Berdasarkan beberapa referensi dan beberapa contoh instrumen uji keterbacaan naskah buku yang pernah saya baca, ruang lingkup uji keterbacaan sebuah naskah buku pada umumnya terdiri dari 5 (lima) aspek, yaitu: (1) tampilan/grafika, (2) isi buku/materi, (3) susunan kalimat/pararaf, (4) penerapan kaidah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)/ Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan (5) penggunaan contoh/ilustrasi/gambar.

Pada aspek tampilan/grafika, bisa dikembangkan menjadi beberapa subaspek, seperti; (a) judul buku/tulisan menarik dan mewakili keseluruhan isi buku, (b) jenis huruf yang digunakan nyaman dibaca oleh mata, (c) ukuran huruf pada naskah nyaman dibaca (misalnya jarak baca 25-30 cm), dan (d) komposisi warna pada halaman naskah nyaman terhadap mata (kalau bukunya akan dicetak berwarna).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun