CORONA MEMBUATKU MERANA, TAPI TAK BOLEH PUTUS ASA (3)
Oleh: IDRIS APANDI
 "Pak Husni mau minum apa?" Tanya Pak Haji Kurdi padaku.Â
"Ah pak haji mah bercanda. Ini 'kan bulan puasa pak. Hehe..." Jawabku sambil sedikit tersenyum. "
Iya pak, maaf saya bercanda. Hehe..." Pak Haji Kurdi menanggapi jawabanku.
"Bagaimana keluarga sehat pak?" Pak Haji Kurdi lanjut bertanya padaku. "
Alhamdulillah pak haji, keluarga saya sehat pak. Kalau pak haji sekaluarga sehat?" Aku menjawab sekaligus balik bertanya padanya.Â
"Alhamdulillah, saya sekeluarga juga sehat. Semoga kita semua selalu sehat ya Pak Husni." Kata pak Haji Kurdi.
Hampir 30 menit aku dan pak Haji Kurdi ngobrol ngarol ngidul seputar keluarga dan pekerjaan, tapi pak Haji Kurdi belum juga bertanya maksud kedatanganku, hingga aku pun memberanikan diri menyampaikan maksud kedatanganku kepadanya.Â
"Pak Haji, maaf, saya menyela obrolan kita. Saya datang ke rumah bapak, pertama bermaksud untuk silaturahmi, dan kedua, maaf, ini sebenarnya saya malu menyampaikannya, tapi karena terdesak oleh kebutuhan, jadi saya memberanikan diri untuk bicara kepada pak Haji. Euu..." Pembicaraanku belum selesai, tapi Pak Haji Kurdi keburu memotong ucapanku.
"Oh iya, maaf, saya tadi keasyikan bicara pak Husni. Maklum, kita sudah lama tidak bertemu, dan kalau ngobrol dengan pak Husni terasa nyambung. 'Kan dulu waktu bapak kerja di percetakan saya pun, kita sering diskusi pak ya? Jadi saya lupa menanyakan maksud kedatangan Bapak kepada saya. Baiklah, ada apa pak?" Pak Haji Kurdi menanggapi ucapanku sambil membetulkan posisi duduknya.Â