Tepat di usia 22 tahun, saya memutuskan untuk menjadi penulis. Tujuan menulis setiap orang berbeda-beda, saya sendiri memulai menulis karena tidak ingin pikun saat tua hehe. Jujur, awalnya saya bingung untuk memilih topik apa yang sebenarnya ingin saya tulis. Hingga saya memilih topik bisnis menjadi pilihan saya, karena saya yakin ekonomi dan bisnis terutama di Indonesia memiliki ruang yang sangat luas. Topik ini juga kecil kemungkinan mengandung negatif sara, kekerasan, dan lainnya.Â
Setelah 2 bulan secara rutin menulis di Kompasiana setiap 2 hari sekali, teman saya bertanya secara mendadak. Mengapa tidak memilih Medium saja untuk tempat upload artikel? Saya bisa menjawab pertanyaan ini untuk mendukung Kompasiana, namun jujur kenapa tidak terpikirkan oleh saya untuk menulis di Medium saja dari awal padahal saya tau platform ini. Setelah berdialog dengan diri sendiri, kemarin saya memutuskan untuk membuat akun Medium.
Ini bukan ajakan, namun artikel ini akan membahas bagaimana Product Positioning membuat saya terpikat hingga mendaftar di Medium. Product Positioning ini yang mungkin kelak akan menjadi ancaman bagi Kompasiana. Berikut saya ringkas Product Positioning dari Kompasiana dan Medium.Â
<<Â Product Attribute
Saya akan membahas fitur produk dan keuntungan dari keduanya. Kompasiana memiliki unggulan kategori dan topik jika dibandingkan Medium. Wajar saja karena bentuk fitur ini diadopsi dari induknya Kompas sebagai media berita online. Sedangkan Medium, memiliki banyak kategori namun anda perlu mencari sendiri dengan kata kunci.Â
Secara benefit, jika kamu menulis di Medium kamu dapat memiliki penghasilan setidaknya $100 per bulan atau Rp1.430.000. Sedangkan di jejak digital terakhir K-rewards Kompasiana, saya menemukan uang bulanan sebesar Rp500.000 . Ini sungguh perbandingkan yang sangat menyakitkan. Terlebih di Medium, ada fitur berlangganan yang membuat setiap orang perlu membayar. Fitur ini memastikan pendapatan hanya menuju orang-orang dengan kualitas tulisan yang menarik dan berbobot. Sedangkan di Kompasiana sendiri ada syarat untuk dapat K-rewards. Meskipun ada affiliate content, saya sendiri tidak pernah menemukan konten kategori ini kecuali lomba tulisan essai. Saya berharap Kompasiana dapat menambah benefit ini.
<< User
Perbandingan penulis di Kompasiana dan Medium sangat terlihat jelas. Saya tidak akan membahas bagaimana perbedaan bobot kualitas tulisan dan temanya. Namun saya akan fokus kepada penulis dan penggunanya. Di Kompasiana sendiri, sejauh saya bisa melihat jumlah followers sebuah akun hanya bisa mencapat ribuan. Followers akun di Medium bisa mencapai  puluhan juta. Dari sisi pengguna aktif saja, Kompasiana jauh tertinggal.Â
Karakteristik penulis di Kompasiana juga beragam yang bisa dikategorikan secara keseluruhan umum. Namun, di Medium saya menemukan beberapa orang penting seperti CEO, Founder, Investor, dan individual penting lainnya. Jujur saya mengerti bagaimana Market Positioning Kompasiana yang ditujukan ke niche karena minat menulis dan membaca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Namun ini bisa menjadi belati bermata dua, terlebih tidak ada perubahan dari tahun ke tahun. Mengapa Kompasiana tidak menjadi inisiator membentuk duta penulis atau menggunakan BA untuk meningkatkan pasarnya.Â
<