Matahari tampak malu-malu keluar dari sela-sela celah gunung kembar. Langit biru begitu bersih nan cerah, menjadi tempat terluas bagi dua ekor burung yang terbang mengepakkan sayap. Hamparan bakal-bakal padi tumbuh dengan subur di sawah yang terpisah oleh petakan jalan panjang. Sebuah rumah gubuk berdiri di tengah dengan pohon besar di belakangnya. Tampak pak tani berbekal serbet di pundak, mengayunkan cangkul ke tanah.
"Ayo anak-anak, sekarang saatnya kita menggambar," ucap Bu Guru Marni sesaat setelah memasuki ruang kelas.
Suasana di luar panas menyengat. Bu Guru Marni memang kedapatan mengajar di akhir jam pelajaran sekolah, lantaran sudah ditimbang dengan cermat, agaknya murid-murid akan sukar berpikir jernih jika belajar mata pelajaran sulit saat jam-jam mengantuk.
Belum berapa lama seusai Bu Guru Marni menuntaskan gambarnya di papan tulis hitam, anak-anak kelas 3 SD yang diajarnya serempak membuka tas. Tangan-tangan mungil mereka mengambil pensil kayu, krayon warna, karet penghapus, buku gambar tentunya, tak lupa alat rautan.
"Apa yang akan kita gambar, Bu Guru?" salah seorang anak bertanya setelah mengacungkan tangan.
Bu Guru Marni menunjuk papan tulis hitam di depan kelas.Â
"Gambar saja pemandangan di desamu, Nak. Itu contohnya ya. Bisa dilihat, itu ada gambar sawah di kaki gunung pada pagi hari."
Barangkali Bu Guru Marni tak tega memberatkan murid-muridnya lelah berpikir sekadar untuk menggambar. Tentunya, pemandangan di desa masing-masing sangatlah mudah digambar lantaran setiap hari, itulah jalur yang mereka lalui ketika hendak bersekolah di SD di kota ini. Ya, semua murid yang hadir di kelas adalah anak-anak yang datang dari desa-desa di sekitar kota.
"Ayo, kita mulai!" Bu Guru Marni memberi instruksi.Â
Wajah-wajah anak yang lelah dan ingin pulang ke rumah lekas beralih pada secarik kertas gambar di atas meja. Satu dua anak mencorat-coret sketsa.