Dahulu, ketika belajar bahasa Indonesia, dalam menulis sebuah kalimat, kita diajar unsur standarnya berupa SPOK (Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan). Kurang dari itu bisa membentuk kalimat. Yang lengkap demikian.
Saya pikir, karena cerpen merupakan kumpulan kalimat yang membentuk cerita, otomatis seluruh unsur itu menjadi ada dalam cerpen.Â
Siapa tokoh (subjek dan objek) yang diceritakan? Apa perilaku (predikat) yang dilakukan dan menjadi konflik yang perlu dicarikan solusi? Di mana kejadian perkara terjadi (keterangan tempat)? Kapan pula terjadinya (keterangan waktu)?
Saya akan bahas bagian terakhir, soal waktu. Bisa dibilang masa. Dalam cerpen, ada tiga masa yang boleh diceritakan: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kemarin, sekarang, dan besok.
Saya bilang boleh, karena itu merupakan opsional. Menceritakan tiga masa dalam cerpen, boleh. Hanya mampu dua masa, silakan. Satu masa saja pun tidak apa.
Pada sisi lain, sekiranya tidak ada aturan baku yang mengatur bahwa cerpen harus dimulai dengan masa kini, begitu juga masa yang lain. Tidak ada pula yang mengatur konflik dan solusi harus terjadi saat masa kapan.
Ada cerpen yang dimulai dari masa lalu. Ada cerpen yang hanya menceritakan masa kini. Ada cerpen yang berakhir pada masa depan. Dari mana kita tahu itu? Tentu, ada pertanda jelas kapan peristiwa sedang terjadi.
Perpindahan waktu penceritaan antarmasa (masa lalu ke masa kini, masa kini ke masa depan, masa depan ke masa lalu, dan seterusnya bolak-balik antarmasa), inilah transisi masa.Â
Ini perlu cermat diperhatikan pengarang. Sebaiknya sejelas mungkin diterakan tanda-tandanya, semata-mata untuk membantu pembaca mempercepat dalam pemahaman alur cerita.