Seorang lelaki bermain ke tempat temannya. Ia sudah berulang kali melakukan. Setiap ada waktu luang, ia sempatkan bertandang. Baginya, orang-orang di sana yang sebagian besar berumur lebih muda darinya telah dianggapnya sebagai adik.
Ia sering pergi menonton bersama mereka. Ia kerap membagi makanan untuk mereka. Sebagian hidupnya dalam perantauan dihabiskan dengan mereka. Sudah bagaikan keluarga sendiri.
Saya seorang anak bungsu. Anak terakhir dari empat bersaudara. Anak yang tentu tidak punya adik. Ketiga kakak dari yang pertama hingga ketiga berurutan: laki-laki, laki-laki, dan perempuan. Kakak ketiga umurnya selisih sepuluh tahun dengan saya.
Mama melahirkan saya pada umur 44 (empat puluh empat tahun). Umur yang dipandang begitu berisiko bagi sebagian wanita zaman sekarang untuk punya anak. Saya tidak tahu sebab pastinya. Apakah wanita zaman dahulu memang lebih kuat?
Kehidupan saya sebagai anak terakhir tidak lepas dari banyak nasihat, baik dari orangtua maupun kakak-kakak. Saya sudah begitu kenyang dan jika menjadi bijak sekarang -- mungkin Anda nilai seperti itu dari tulisan saya, betapa alamiah terjadi.
Saya memutuskan dengar-dengaran. Setiap perkataan yang mengandung kebaikan meskipun berbentuk teguran, saya pahami benar. Saya tidak berani melawan, karena paham efeknya tidak baik.
Pada satu sisi, saya juga ingin punya adik. Melihat sebagian teman yang adalah seorang kakak, bermain asyik dengan adiknya, saya terkadang iri.
Saya ingin terlihat lebih tua dan bijak di mata seorang adik. Saya ingin berbagi kebijaksanaan padanya. Tentu, jika dilakukan pada kakak adalah sangat sungkan.
Berharap mama melahirkan lagi, tidak mungkin. Akhirnya, saya melakukan hal-hal berikut agar bisa punya adik.
Angkat teman seolah-olah menjadi adik