"Tolong Alexa. Tolong!!! Sebentar lagi dia datang."
Ayahnya terus memohon.
Alexa sebetulnya tidak ingin menggunakan kekuatannya. Sudah habis simpati terhadap ayahnya. Ia masih ingat, ibunya jatuh terpelanting di lantai. Badannya terdorong kencang. Kepalanya terbentur dinding. Darah dari ubun-ubun mengucur deras.
Ayahnya yang malas dan pengangguran itu, terus memukul ibunya dengan sapu. Ia meminta uang. Ibunya menangis terisak-isak.
"Tidak ada!" kata ibunya. Bibirnya gemetar. Kakinya bergetar.
"Kamu jualan seharian masak tidak ada uang? Sini mana uangmu!" ayahnya terus saja memukul. Alexa dari balik pintu kamar melihat dengan raut muka sedih. Ia ingin menolong, tetapi takut dipukul. Ia hanya menangis, melihat ibunya terus disiksa, dari hari ke hari, sampai akhirnya ibunya tidak kuat dan dilarikan ke rumah sakit.
Meskipun ia begitu benci terhadap ayahnya, tetapi karena ayahnya satu-satunya keluarga yang dimilikinya, akhirnya Alexa menyanggupi permintaan ayahnya. Ia merobek halaman kelima itu. Lalu, ia pergi ke dapur mengambil sebuah rek api. Dinyalakannya api itu dan halaman itu dibakarnya.
Tidak berapa lama, terdengar kabar siang itu, seorang tukang kredit meninggal karena kecelakaan tertabrak truk. Ayah Alexa menarik napas panjang. Ia begitu lega.
Malamnya, Alexa mendatangi ayahnya. Matanya menatap tajam ayahnya. Ia mengangkat tangan kirinya ke atas. Tangan itu memegang sebuah halaman buku gambar yang terbuka. Gambar itu berupa seorang lelaki tua, berjanggut putih, dengan banyak uban di kepala.Â
Keriput memenuhi seluruh wajahnya. Badannya sedikit bungkuk. Lelaki itu duduk di atas kursi goyang yang lapuk. Di dekat lelaki itu, ada seorang gadis sibuk menggambar di atas meja.
Tangan kanan Alexa memegang lagi rek api. Jempolnya menekan pemicunya. Sebuah api kecil kembali menyala.