Mohon tunggu...
Ruang Demokrasi
Ruang Demokrasi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis

Ruang demokrasi sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi, kritik, masukan.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Takdir Adalah kunci kebahagiaan Hidup

9 Januari 2025   12:44 Diperbarui: 9 Januari 2025   12:44 23
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bahasa. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Jcstudio

Satu hal yang mesti kita ketahui, kenapa allah swt mewajibkan kita untuk beriman kepada takdir, jawabannya yang paling sederhana dan berhubungan dengan kehidupan kita, bahwa sesungguhnya takdir adalah kunci kebahagiaan dalam hidup, banyak diluar sana orang yang miskin, orang dikasih ujian, masalah, rintangan dalam keluarga nya, hartanya , anaknya, pekerjanya, hidupnya banyak, tidak ada manusia yang tidak di uji, namun cara untuk menyikapi nya berbeda beda.

Ketika orang di uji dengan kemiskinan, pekerjaan dan sebagainya ada orang yg muka nya berkerut mengeluh, dalam hal yang sama ada orang diuji namun mereka bahagia dan tersenyum lapang dada. Begitu juga orang kaya, belum tentu kekayaan itu nikmat, ada juga kekayaan itu menjadi ujian untuk manusia. Ada yang masih solat dan ada yang tidak. Ada juga orang yang kaya namun muka penuh kegelisahan dan sebaliknya juga begitu, ada yg kaya namun muka penuh kebahagiaan, satu ujian namun berbeda orang dalam menyikapi, karna mereka percaya takdir dan selalu menyembah allah swt. 

Penyikapan yang beberapa akan menghasilkan perasaan yang berbeda pula.

Ada orang yang sudah menerima takdir, ikhlas lapang dada meskipun mereka mendapatkan kenikmatan yg sama, seperti gaji misalnya. Mereka berbeda dalam menyikapi ada yang menerimanya ada yang mengeluh. Inilah sifat manusia yang tidak mau menerima takdir yang sudah ditetapkan allah, artinya mereka tidak berkecukupan. Padahal mereka penghasilan nya sama tapi beda perasaan dalam menyikapi nya.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun