Nini kembali ke ruang tengah. Kembali memakai plastik tadi di kepala, kali ini Nini berusaha mengikat bagian leher dengan pita.
"Huh! Cucah!" Anak itu mendengkus kesal. Tapi tidak ada tanda-tanda mau menyerah.
Selama Nini berusaha keras, Bunda ikut masuk ke rumah. Melihat anak asuhnya yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri, Bunda jadi semakin penasaran.
"Nini sedang apa?"
"Buat baju ujan," jawab Nini dengan raut polos.
Bunda mengernyit bingung. "Baju ujan?"
"Um! Una puna baju ujan, Buna! Una puyang, ujan deyas!" Nini berusaha menjelaskan sebisanya. Dia mau bilang kalau tadi temannya, Arjuna tidak harus menunggu hujan reda karena punya jas hujan. "Nini buat baju ujan!" Dengan wajah bangga dia bercerita.
Mendengar penuturan Nini, Bunda merasa sedih. Padahal Bunda pikir dengan membelikan payung bagi anak-anak akan cukup. Tapi, ternyata anak-anak tetaplah anak-anak.
Nini punya keinginannya sendiri. Nini tidak meminta ataupun memaksa, tapi Bunda jelas merasa sangat sedih dengan kondisinya.
"Buna! Buna no cedih! Nini no baju ujan!" Melihat tatapan berkaca Bunda, Nini jadi merasa bersalah. Nini tidak mau membuat Bunda menangis.
Nini berlari untuk memeluk Bunda. Sekarang malah dia yang menangis. Dia tidak mau Bunda sedih karena keinginannya.