Rubrik Silat Pena hadir pada awal tahun 1960-an, merupakan rubrik yang kehadirannya diperuntukan bagi pihak-pihak yang berpolemik atau mengemukakan pendapat singkat mengenai berbagai persoalan yang dianggap perlu ditegaskan atau diperdebatkan.

Hadir dengan motto "Majalah Bulanan untuk Soal-soal Kebudayaan Umum", majalah Basis lebih menaruh perhatian pada esai-esai kebudayaan dan karya sastra berbentuk puisi.

Menjelang tahun 1970, majalah Basis mengubah orientasinya sebagai majalah kebudayaan umum.
Perubahan orientasi tersebut tentu saja melalui pertimbangan-pertimbangan "tertentu", termasuk dalam penetapan staf redaksi, isi majalah, dan target audience yang dijadikan sasaran.

Dari awal penerbitannya majalah Basis kurang menaruh perhatian terhadap cerpen karena para pengayomnya lebih tertarik pada pemuatan puisi, beberapa di antaranya adalah "Tragedi" karya Yudha (Juli 1954), "Saat Yang Biasa Tiba" karya WS Rendra (Oktober 1954), dan "Tuhanku" karya A. Liem Sioe Siet (April 1955). Nama-nama penyair lain yang sering muncul adalah Th. Koendjana., R.G Siswantho, Trisnanto, dan Slametmuljana. (Herry Mardianto)
Rujukan: Sistem Penerbitan di Yogyakarta
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI