Menghadapi Perilaku Si Abang yang Gemar Merajuk
Lelaki kecil itu melemparkan kedua sandalnya ke atas trotoar dengan amat geram, hingga sejurus kemudian ia tak mengenakan alas kaki. Ia terus dalam kondisi merajuk dan tak mempan dibujuk.
Ia seakan tak peduli pada sekitar, meski berkali bundanya berusaha menenangkan riak-riak kemarahan. Namun kemarahan disertai rengekan kian memuncak, membuat sang bunda pun mencak-mencak.
Diserunya si abang guna kembali mengenakan alas kaki, sebab tapak kaki si abang kotor terkena saputan remah-remah debu. Namun sang anak tetap enggan, tak ayal memancing kemarahan sang Bunda.
Seorang Bunda yang tak sabaran biasanya, memukul atau menjewer telinga sang anak. Hingga sang anak meringis kesakitan karena terkena pukulan atau jeweran. Semakin sukar ditenangkan.
Janganlah menghardik melontarkan kata-kata tak sepatutnya pada anak, sebab dapat menyisakan luka lebam pada psikis anak. Luka-luka jiwa yang tak kasat mata jauh lebih sukar guna disembuhkan.
Tunggu berapa saat hingga lupaan emosi itu lenyap, dan rengkuh anak ke dalam hangat pelukan. Karena hanya pelukan bunda sebagai penetralisir riak-riak emosi jiwa melanda luapkan sebentuk amarah.
Menghadapi anak yang gemar merajuk, harus senantiasa bersabar meski kadang disisipi perasaan kesal. Bukankah sejatinya ibu memiliki sifat welas asih sang penebar kasih buat emosi seketika jadi tawar.
Anak-anak dapat mengingat perlakuan orang tua di benak mereka, perihal baik-buruk atau pun kasar-lembut. Semua tertanam dalam di ingatan. Maka waspadailah sebab orang tua merupakan cermin nyata.
Hera Veronica Suherman
Jakarta, 13/10/2023