Tidak ada perasaan di dalam akal. Sebab, akal pada dirinya sendiri tidak punya perasaan. Elemen perasaan ada di hati. Akal menjadi tahu apa itu perasaan bila melibatkan hati.
Oleh sebab itu, akal tanpa budi memiliki potensi negatif, yakni tipu daya; muslihat; kecerdikan; kelicikan. Demikian juga, ketika kata 'budi' diartikan adalah 'akal' atau budi itu berubah menjadi 'akal' saja, maka akal itu dipakai dalam arti kecerdikan menipu atau tipu daya.
Baca juga: Untuk Manusia yang Berbudi Luhur, Mari Menjadi Manusia yang Mulia di Hadapan Semesta!
Akal membutuhkan kemampuan berpikir. Oleh sebab itu kecerdasan mendapat tempat yang sangat mulia dalam akal. Kecerdasan menjadi dewa akal, karena kecerdasan itulah yang memberi dasar logis dan eksak pada suatu realitas.
Tidak heran orang yang bertumpu pada akal semata akan sangat mendewakan orang pintar. Entah tabiat, akhlak, watak, dan perbuatannya baik atau tidak, itu tidaklah penting. Yang penting otaknya.
Begitu pula orang yang mengandalkan pintar-nya saja. Dia tidak mempertimbangkan apakah tabiatnya baik atau tidak; akhlaknya baik atau tidak; wataknya baik atau tidak; perbuatannya baik atau tidak. Baginya, daya pikir lebih penting dari semua itu.
Perbedaan ini juga jelas pada arti kata 'berakal' dan 'berbudi' dalam KBBI. Orang 'berakal' adalah orang yang mempunyai akal; pandai mencari ikhtiar; cerdik; pandai.
Sedangkan, orang 'berbudi' adalah manusia yang mempunyai budi; mempunyai kebijaksanaan; berakal; berkelakuan baik; murah hati; baik hati.
Akal Sehat = Akal Budi
Ketika orang bicara tentang "akal sehat atau nalar", di situ ada "budi". Budilah yang membuat akal itu sehat.
Budi berperan memberi pertimbangan baik dan buruk kepada akal agar akal melahirkan tabiat yang baik, akhlak yang baik, watak yang baik, dan perbuatan yang baik.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!