Tulisan ini adalah lanjutan tulisan saya sebelumnya tentang pembangunan kawasan hunian berorientasi Transit Oriented Development (TOD) yang sekarang sedang di jalankan di Area Stasiun KRL Tanjung Barat, Stasiun KRL Pondok Cina Depok, dan Stasiun KRL Bogor.
Sebagaimana yang telah dibahas, porsi yang dialokasikan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sebanyak 25% dari keseluruhan unit yang di bangun (beberapa sumber menyebutkan 30%), bagi saya jumlah yang belum memadai.
Saya akan mengupas lebih mendalam mengapa pemerintah sudah selayaknya memprioritaskan 2 hal dalam pengembangan TOD: Pertama, menambah porsi yang dialokasikan untuk MBR; Kedua, memperioritaskan konsumen rumah pertama (end-user) untuk membeli unit-unit rusun komersial (apartemen) yang ditawarkan.
Berdasarkan infomasi yang didapat dari media, harga tanah yang mahal menjadi kendala terbesar untuk mewujudkan hal ini, dan tentu saja saya setuju.
Namun, ada hal-hal yang sifatnya lebih strategis, lebih penting, yang menurut saya layak dijadikan sebagai dasar pertimbangan bagi pemerintah untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih "berpihak", sebagaimana uraian-uraian berikut:
Konsep ideal pengembangan hunian berorientasi TOD
Sebagaimana sudah dijabarkan sebelumnya, konsep awal pengembangan TOD berangkat dari kebutuhan perencanaan kota modern untuk mengadaptasi perubahan-perubahan yang terjadi, karena sebuah kota terus berkembang, hingga tuntutan untuk menciptakan kota yang ramah dan nyaman untuk di tinggali warganya hingga masa yang akan datang, akan terus-menerus mengemuka.
Salah satu solusi yang digunakan adalah pembangunan mixed-use area yang berorientasi TOD, dengan segala daya tariknya, sehingga diharapkan mampu mendorong orang untuk tinggal di area yang terintegrasi dengan layanan transit angkutan massal dan mulai meninggalkan ketergantungan terhadap penggunaan kendaraan pribadi.
Banyak benefit yang diperoleh dari penerapan TOD sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal disana. Berikut saya rangkum manfaat-manfaat utama dari penerapan TOD:
Pertama, merupakan manfaat terbesar, adalah berkurangnya emisi gas rumah kaca sebagai hasil dari terurainya kemacetan karena berkurangnya jumlah kendaraan yang lalu-lalang di jalan. Di banyak negara, pembangunan berorientasi TOD ini seringkali diasosiasikan sebagai gerakan sadar lingkungan, karena berakibat pada berkurangnya polusi udara, membiasakan warga untuk lebih banyak berjalan kaki, dan jika dibarengi dengan pengalokasian RTH yang lebih memadai akan menghasilkan kualitas udara kota yang jauh lebih baik.
Kedua, mendukung mobilitas warga dalam melaksanakan beragam aktifitas, tidak hanya berkontribusi pada effisiensi waktu tempuh, tapi juga mampu secara signifikan menekan biaya transportasi karena ongkos angkutan massal yang murah. Pengembangan TOD ini selanjutnya akan terkait erat dengan pengembangan sistem angkutan umum kota yang saling terkoneksi satu dengan yang lainnya