Mohon tunggu...
Helmi Faridy
Helmi Faridy Mohon Tunggu... Guru - Cerpenis/ASN Guru

Saya seorang ASN Guru Agama Islam yang punya hobi jurnalistik.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Savonlinna

5 November 2023   10:00 Diperbarui: 5 November 2023   10:03 113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Lelah kurasakan, setelah seharian menyelesaikan pekerjaan di kantor. Kupandangi jam kecil berbentuk amor yang ada di depan komputerku, sudah menunjukkan pukul 20.00, kupikir saatnya aku pulang. Kasihan Addriella, adikku, menunggu. Setelah orang tua kami meninggal, hanyalah aku yang ia punya, akulah yang merawatnya, dan tentu aku ingin melihatnya sukses seperti aku saat ini, memimpin sebuah perusahaan besar.

Di usianya yang terbilang remaja, masih duduk di tingkat akhir sekolah seni, tentu ia merasa kesepian sendiri di rumah tanpa kehadiranku, walau TV yang cukup lebar sudah dipasang di kamar tidurnya, makanan dan minuman juga ada banyak, kalaupun ia mau membaca, beragam novel banyak di lemari buku di ruang baca. Namun, bukan alasan bagiku untuk sering pulang larut, kecuali hari tertentu yang membuat aku harus lembur seperti hari ini.

"Belum pulang, Pak Ben!" sapa seseorang. Kulihat Kerwyn berdiri di depan pintu ruang kerjaku. Ia adalah stafku di bagian marketing. "Oh, Kerwyn, iya saya lagi asyik mempelajari proyek sehingga lupa bahwa di luar sana sudah gelap, kamu sendiri belum pulang?" Tanyaku balik. "Ini mau pamit pulang, Pak", sahutnya. "Baik, silakan, hati-hati di jalan!"

Kuambil ponselku untuk menelepon Addriella, tapi kulihat banyak notifikasi di beranda Facebook. Biasalah, orang-orang saling membicarakan dan saling berbagi informasi tentang wabah virus yang sejak dua minggu lalu melanda Savonlinna. Informasi yang kudapat, jumlah yang terkonfirmasi bertambah banyak. Kumasukkan kembali ponsel ke dalam tas, tak jadi menelepon Addriella.

Bergegas aku menuju parkiran di mana Audy merah milikku kuparkir. Rencananya aku mau singgah sebentar ke rumah Valma, kekasihku, sebelum pulang. Di perjalanan kulihat banyak orang tergeletak, sementara yang lainnya tidak berani mendekati, bahkan lari, teriak histeris meninggalkan.

Sungguh mengerikan, "Tuhan! Selamatkanlah kami dan kota ini dari virus mematikan" pintaku dalam doa. Rencana ke rumah Valma kubatalkan, takut dan gelisah menyelimuti perasaanku. Semua warga juga pasti ngeri jika virus ganas ini menjangkiti. Kulajukan jalan roda mobilku, sesegera mungkin aku ingin sampai ke rumah, paling tidak aku akan merasa aman dengan tidak terlalu berdekatan dengan orang-orang di luaran, hanya dengan Addriella.
oOo

Kurebahkan tubuh lelahku di sofa, kunyalakan televisi, reporter Ykkonen sedang melaporkan keadaan Helsinki yang juga mengalami pandemi virus, namun tidak separah di Savonlinna. Tidak lama setelah itu, Manajer Kota Savonlinna, Joma Anttiri, melakukan live conpress menyampaikan pemberlakuan pembatasan sosial. Aku tidak tahu, apakah ini keputusan baik atau buruk buat Savonlinna.

Kebijakan sudah diambil manajer kota, kukabarkan ke Kerwyn agar menginfokan kepada karyawan lain bahwa perusahaan tutup untuk sementara, kecuali pegawai inti, tetap bekerja di kantor bergantian. Apalagi ada proyek besar di depan mata. Besar harapanku agar proyek ini berjalan lancar.

Kutemui Addriella di kamarnya di lantai dua, kubuka pintu di sebelah kanan tangga, dengan senyum manisnya, Addriella menyambutku, tangannya memegang sebuah novel terbaru dari Carita Nystrom. "Kita harus membatalkan rencana kita nonton opera besok dengan Kak Valma", kataku mengawali, kutahu Addriella pasti sangat kecewa, karena ia sangat suka dengan acara tahunan yang diselenggarakan di Olavinlinna Fortress itu, "kenapa Kak?" Tanyanya lirih. "Pak Jorma Anttiri barusan mengumumkan bahwa Savonlinna memberlakukan pembatasan sosial" jawabku dengan suara takkalah lirih, "karena virus", lanjutku.

"Pembatasan sosial, artinya mulai besok kita di rumah saja hingga 20 hari, semua sekolah juga ditutup sementara. Sekolah membebaskan kamu mengerjakan apapun dari pelajaran seni, tetapi harus dilaporkan setiap hari" kataku pada Addriella. "Aku pun akan lebih sering di rumah, paling sesekali dan sebentar mampir ke kantor untuk kontrol langsung" lanjutku. Addriella pun merebahkan tubuhnya, dipejamkannya matanya, sambil memendam rasa kecewa.

oOo

Pagi minggu yang cerah, kuajak Addriella berolah raga dengan lari-lari kecil di halaman rumah,  Purema, anjing kesayangan kami ikut berlari. Halaman rumah cukup luas buat berolahraga, dengan bernuansa taman yang sengaja kubuat dengan mendatangkan ahli rancang halaman. Danau kecil juga sengaja dibuat di bagian kiri tengah halaman, benar-benar berasa layaknya di taman

Selesai berolahraga, sambil sarapan, kulihat update berita tentang virus yang menyerang Kota Savonlinna di TV, mencengangkan, hampir separo warga kota terjangkit virus mematikan itu, dan gejala yang ditemui tim medis di lapangan yang menangani adalah wajah mendadak kehitaman sebelum akhirnya ambruk dan meninggal.

"Hari inipun kita tidak ke Pikkukirkku" kataku pada Addriella. Itu adalah Gereja Katedral tempat ibadah kami biasa hari Minggu. "Pasti karena keadaan di luaran sana kan Kak?" "Iya" sahutku lirih. "Ya sudah, kalau begitu aku mau baca Alkitab saja ya Kak!" Addriella berjalan ke ruang baca, diambilnya Alkitab yang ada di sana.

Bunyi klakson mobil terdengar nyaring, kulihat ke luar dari jendela rumah, terlihat sedan mercy berwarna hitam memasuki halaman rumahku, aku tersenyum, itu adalah Valma. Kusambut hangat kekasihku, awalnya ia mau mengajak kami nonton opera seperti rencana semula kami, ups, aku lupa mengabarinya bahwa rencana itu harus dibatalkan. Valma adalah perempuan yang dewasa, tentu ia akan dengan mudah memahami keadaan. "Baiklah, kalau begitu aku langsung pulang saja" katanya sambil tersenyum kepadaku, taklupa tangannya melambai ke arah Addriella. Addriella pun balas melambai padanya.

oOo

Sore hari, Addriella menghampiriku, "Kak, buah dan sayur di dapur hampir habis" katanya. "Oh sekarang kutelepon ke kantor dulu, biar minta driver kantor membelikan, kau tulis saja dulu daftarnya" pintaku. "Nggak usah, kita saja yang pergi ke Market Square, lagian sudah bosan juga di rumah dari pagi" katanya memelas. Padahal keadaan di luar sana sangatlah tidak aman buat kami, tapi apa boleh buat, adikku yang sangat kusayangi memintaku untuk mengantarnya pergi belanja. "Oke!" Sahutku semangat.

Kukemudikan Audi-ku dengan tidak begitu laju menuju Market Square, pasar hasil pertanian di Savonlinna. Setibanya di sana, kami langsung membeli daftar belanjaan yang harus dibeli, paling tidak untuk keperluan satu minggu, kami jumpai banyak orang berbelanja juga di sini, seperti melupakan imbauan manajer kota kemarin. Namun sama seperti kami, orang-orang berbelanja dengan cepat dan segera meninggalkan kerumunan.

Dalam perjalanan pulang, Addriella memintaku singgah sebentar di Kivinokka, taman menarik di tepian danau yang indah. "Addriella, kita harus segera pulang, tidak boleh lama-lama di luar" kataku. "Sebentar saja Kak, coba kakak lihat, pemandangan di sana begitu indah, orang-orang juga masih ada yang bersantai di sana menikmati indahnya pemandangan" sahutnya. Biasa, aku takbisa melawan keinginannya, kutepikan mobilku, kutemani ia duduk di taman tepian danau itu.
Bruuk, tiba-tiba seorang lelaki tua ambruk tidak jauh dari tempat kami duduk, orang-orang mendekati ingin menolong, juga aku dan Addriella. Ketika mendapati wajah orang tua itu seperti kehitaman, orang-orang pada bubar berlari segera pergi meninggalkannya, tetapi tidak Addriella, dia masih berdiri di dekat orang tua itu, ia malah semakin mendekati, berjongkok di samping orang tua itu, mungkin nalurinya ingin menolong.

"Addriella...Addriella!" Akupun berteriak memanggilnya dari dalam mobil. Sementara dari arah lain, kembali ada pemuda tumbang, sepertinya terjangkit virus mematikan. Taklama berselang, gadis yang bersamanya juga ikut tumbang. Akupun kembali keluar dari mobil, kukejar adikku, kutarik tangannya, kubawa ia memasuki mobil dan bersiap pergi meninggalkan Kivinokka.

Ambulans dan mobil polisi dari Departemen Kepolisian Lokal datang beriringan, tim medis langsung mengevakuasi para korban yang semakin banyak, sementara polisi membubarkan orang-orang yang tersisa satu-dua di lokasi. Kami pun segera pergi melaju menuju rumah. Sepanjang jalan pulang, jantungku berdetak kencang layaknya ketakutan, sementara Addriella sesenggukan menangis. Entah apa yang dipikirkannya?

Langsung kuhidupkan televisi di ruang depan, sementara Addriella naik ke atas dan mengunci diri di kamarnya. Pemberitaan tentang ganasnya serangan virus mematikan itu terjadi di hampir seluruh wilayah kota, sangat banyak korban meninggal dan yang dirawat, termasuk ada belasan dokter yang menangani pasien terkonfirmasi ikut menjadi korban meninggal.

Kutelepon Valma untuk sekadar tahu keadaannya, terdengar suaranya gugup, perasaannya kalut bercampur aduk, ia mengatakan ingin datang ke rumahku supaya bisa bersama dan ada teman dalam situasi gawat seperti ini. Rasa takutnya beralasan, di Savonlinna dia seorang diri, orang tuanya jauh di Salo, berjarak ratusan kilo.

Aku mengerti perasaan takutnya, kukatakan agar ia jangan keluar rumah, nanti pada saat yang tepat aku yang akan menjemputnya. Valma pun jadi tenang, mungkin suaraku mampu menjadi penenang baginya di saat-saat seperti ini. Segala keperluan makan dan minum, kuminta Kerwyn menugaskan driver di kantor mengantar ke rumah Valma.

Sangat ganas virus ini, dalam tempo sehari dua hari sudah membuat kota seperti mati, sekolah dan perkantoran terpaksa tutup, bar dan pertokoan juga banyak yang tutup, kastil, museum, juga tutup, hanya rumah sakit yang sibuk dengan kiriman pasien. Di mana-mana bergelimpangan mayat dengan semua wajah menjadi menghitam, sangat mengerikan. Dan sepertinya manajer kota sudah kehabisan akal untuk mengatasi.

oOo

Pukul 22.00, Joma Anttiri, Manajer Kota, didampingi anak buahnya dari Departemen Kesehatan dan juga Kepala Kepolisian Kota mengumumkan, mulai besok pagi, semua warga harus meninggalkan rumah mereka untuk bersegera menuju sekolah-sekolah dan gereja-gereja terdekat untuk karantina sementara sebagai langkah melawan penyebaran virus.

"Kebijakan apa itu?" Gumamku. "Bukankah hal itu malah bisa menjadi preseden buruk, bagaimana jika virus menyebar saat itu dan menyerang warga, mungkin korban akan bertambah banyak" pikirku dalam hati. Addriella kuberi tahu tentang rencana ini, taklupa kutelepon Valma bahwa besok ia akan kujemput untuk ikut kami mengungsi bersama ke Pikkukirkku. Walau aku sendiri tidak tahu apa rencana Pak Joma Anttiri dibalik kebijakan aneh ini.

Pagi pun tiba, hanya sedikit makan dan minuman kami bawa, beserta sedikit pakaian. Addriella sudah menunggu di mobil, lalu kami pergi menuju Pikkukirkku, tapi taklupa menjemput Valma sebelumnya. Di jalanan kota, orang-orang berjalan menuju sekolah dan gereja terdekat, hanya sedikit yang mengendarai mobil. Terlihat pula banyak dari orang-orang itu yang ambruk padahal terlihat sehat awalnya, tak ada yang peduli dengan keadaan itu, yang ada hanya jeritan dan teriakan harus kehilangan orang terdekat mereka.

Sesampainya di rumah Valma, kubunyikan klakson mobilku, dengan cepat Valma keluar, mengunci pintu dan berlari menuju mobilku. Nafasnya sedikit tersengal, Addriella hanya diam sambil mencucurkan air mata ke pipinya yang putih kemerahan, mungkin taktega melihat banyaknya tubuh bergelimpangan di jalanan tadi. Kamipun segera meluncur ke Pikkukirkku Cathedral.

Di halaman depan gereja, bersiap petugas medis dengan alat pendeteksi, setiap yang terdeteksi suhu badannya melebihi batas normal maka akan dimasukkan ke ambulans untuk dibawa ke rumah sakit dan dirawat. Aku dan Valma aman, tapi tidak Addriella, ia dinyatakan harus dirawat, tangisnya pun pecah, dengan sekuat tenaga ia ingin menghampiriku, namun dicegah petugas dan dipaksa memasuki ambulans. Aku dan Valma juga disuruh bergegas memasuki gereja, kulihat dari kejauhan, Addriella terus menangis, di sana ia bersama beberapa wanita yang juga terdeteksi bernasib sama dengannya. Aku pun tertunduk, harus berpisah dengan adik kesayanganku, sementara Valma, wajah cantiknya basah dengan air mata, ia sangat sayang dengan Addriella, sedih karena tidak ada Addriella bersama kami di sini.

Suara isak tangis tentu tidak hanya dari Valma, tapi dari segala sisi ruang peribadatan ini. Rasa takut dan sedih bercampur aduk, apalagi harus kehilangan keluarga dekat karena meninggal di  jalanan atau harus terpisah karena harus dibawa oleh tim medis seperti halnya Addriella.

Di sini adalah rumah Tuhan, tempat berdoa dan memuji-Nya. Dalam damai Yesus, akupun akhirnya mengerti dengan kebijakan seperti ini. Ternyata agar yang terjangkit dan yang dicurigai terjangkit tidak berbaur dengan yang sehat dan harus dipaksa masuk ke rumah sakit, sementara yang sehat dikarantina sementara sampai semua orang yang dianggap penyebar virus sudah dimasukkan semua ke rumah sakit-rumah sakit sehingga tidak ada lagi yang menularkan virus di jalanan kota ini. Sorenya pun kami disuruh kembali ke rumah masing-masing.

Kuantar Valma kembali ke rumahnya, sementara Addriella, ia dibawa ke Rumah Sakit Pusat dan dirawat di sana. Tidak kusangka adikku terjangkit virus ganas itu. Kukatakan pada Valma, setelah serangan virus ini selesai, dan Addriella sudah sembuh, aku ingin mengajaknya ke Salo untuk melamarnya. Kupeluk Valma yang masih saja bersedih dengan mata lembap bercucuran air mata, masih segar diingatannya suara Addriella saat dipaksa petugas memasuki ambulans.

oOo

Lima hari telah berlalu, kulewati tanpa adikku bersamaku. Keadaan kota mulai ramai dengan aktivitas warga kota, walau belum seramai sebelum virus menyerang Savonlinna. Sekolah sudah mulai dibuka, akupun kembali beraktivitas di kantor, karyawan kembali masuk semua, namun jauh berkurang karena sebagian menjadi korban serangan virus, ada yang meninggal juga, walau ada juga yang lagi dirawat di rumah sakit.

Selesai mengerjakan semua pekerjaan di kantor, kuajak Kerwyn menemaniku ke rumah sakit pusat untuk melihat keadaan Addriella. Di sana kami diarahkan petugas ke ruangan yang cukup jauh dari Addriella di rawat, disediakan layar untuk melihat pasien, tinggal disebutkan namanya, petugas akan menampilkan ruangan pasien dirawat di layar yang tidak terlalu besar itu, terlihat Addriella duduk di atas ranjang, kulihat gerakan mulutnya, aku tahu pasti, ia menyebut nama Yesus agar senantiasa memberkatinya. Tidak ada air mata yang membasahi wajahnya, tidak lagi putih memang wajahnya, terlihat agak sedikit menghitam. Tidak terasa air mata mengalir di wajahku, tak tega melihat ia berjuang sendirian menghadapi penyakitnya. Kerwyn dari tadi hanya tertunduk, takmampu ia memandangi adikku.

oOo

Sudah hampir dua minggu setelah aku dan Kerwyn menjenguk Addriella dari layar itu, memang kunjungan ke rumah sakit pusat tidak diperbolehkan lagi setelah itu, parahnya sekadar komunikasi lewat telepon pun tidak diizinkan. Aku pun sibuk dengan pekerjaan kantor yang banyak tertunda, untungnya proyek perusahaanku berjalan manis, tinggal selangkah lagi akan deal.

Begitu pula Valma, dia sangat sibuk di kantornya di Balai Kota, sehingga kami tidak sekalipun bertemu hingga hari ini. Paling saat malam menjelang tidur, kusempatkan untuk berbicara dengannya lewat VC, tidak ada lagi ketegangan di wajahnya, aura cantiknya kembali seperti awal aku kenal dengannya. Setiap akan berakhir perbincangan, dia taklupa menanyakan tentang Addriella. Hal yang aku sendiri juga sebenarnya tidak tahu.

Di kamarku, di samping foto adikku, terpampang foto Valma, nampak anggun dengan rambut hitamnya yang diikat. Teringat awal pertemuan dulu di provincial museum, senyumnya yang membuat hati ini seperti terikat oleh perasaan, perasaan indah yang menusuk jauh ke dalam hati, bertukar nomor kontak, hingga janji bertemu di Opera Festival, dan hingga hari ini menjadi kekasihku.

oOo

Pagi hari, ini adalah hari ke-20, di mana pembatasan sosial berakhir. Aku dan ribuan warga Savonlinna menunggu conpress manajer kota di TV. Kulihat dalam tayangan, manajer kota yang diapit kepala kepolisian lokal dan kepala departemen kesehatan kota mengumumkan pembatasan sosial berakhir. Berakhir dengan kemenangan, bahwa virus mematikan sudah hilang di Savonlinna, dan warga dibebaskan kembali beraktivitas seperti biasa tanpa ada rasa khawatir lagi.
Seluruh jalanan di Savonlinna dipenuhi banyak orang yang berpesta merayakan kemenangan mengatasi serangan virus, aku dan Valma turut serta dalam kemeriahan ini. Bunyi terompet bersahutan bak perayaan tahun baru, saling berpelukan gembira. Di tengah kegembiraan itu, ponselku berdering, ternyata telepon dari rumah sakit pusat yang memintaku segera ke sana. Aku segera pergi, Valma ikut bersamaku.

Sesampainya di rumah sakit pusat, tim medis yang menunggu kedatanganku langsung mengarahkan kami ke ruang tempat Addriella dirawat. Tidak ada senyuman seperti biasa ia menyambut kedatanganku di wajahnya yang kini menghitam, tiada gerak mata yang mengarah kepadaku dari Addriella. Valma langsung histeris menangis, dipeluknya tubuh Addriella, akupun tersungkur bercucur air mata. Addriella kini telah tiada.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun