Mohon tunggu...
haryantiwonogiri
haryantiwonogiri Mohon Tunggu... -

Mahasiswi Pascasarjana Prodi MPI IAIN Surakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Nasionalisme Islam dalam Mewujudkan Islam dan Cinta Tanah Air

16 Mei 2016   21:40 Diperbarui: 16 Mei 2016   22:34 1203
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Nasionalisme berasal dari kata  bahasa nation( dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman ) yang berarti bangsa dan mndapat imbuhan –isme yang berarti paham.  Jadi secara sederhana nasionalisme dapat diartikan sebagai paham tentang semangat kebangsaan , perasaan kebangsaan, yaitu semangat cinta atau perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air. Menurut Nazarudin Syamsudin , nasionalisme merupakan suatu konsep yang berpendapat bahwa kesetiaan individu  diserahkan sepenuhnya kepada Negara

Dengan demikian nasionalisme merupakan suatu paham kesadaran untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa, karena adanya kebersamaan kepentingan , rasa senasib seperjuangan dalam menghadapi masa lalu dan masa kini, serta kesamaan pandangan , harapan dan tujuan dalam merumuskan cita-cita masa depan bangsa.

            Kita sebagai warga Negara sudah selayaknya memiliki rasa bangga dan mencintai terhadap bangsa dan negaranya sendiri.  Akan tetapi rasa bangga dan cinta kita terhadap bangsa dan Negara ini dengan sewajarnya, bukan berarti mengagung-agungkan bangsa dan Negara sendiri., dengan menganggap lebih unggul dan hebat dari bangsa lain.

            Islam dan nasionalisme adalah dua sisi mata uang yang saling memberikan makna. Keduanya tidak bias diposisikan secara dikotomi atau terpisahkan. Nasionalisme selalu meletakkan keberagaman dan pluralitas sebagai konteks utama yang darinya dapat melahirkan ikatan dasar yang menyatukan sebuah Negara dan bangsa.

            Sebagai umat Islam hendaknya percaya bahwa nasionalisme tidak bertentangan dengan Islam dan bahkan merupakan bagian dari Islam itu sendiri. Dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ( 2) ayat126 diceritakan bahwa Nabi Ibrahim As berdoa kepada Allah SWT agar negeri Mekkah dijadikan negeri yang aman dan negeri yang diberi rezeki . Hal ini menunjukkan bahwa rasa kecintaan terhadap bangsa ( negeri ) sudah ada ketika jaman Nabi Ibrahim  As, tercermin dari doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim.

ø(  Artinya :  dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.

Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali". ( QS Al Baqarah : 126 )

            Rasulullah Saw bersabda yang artinya “ Cinta tanah air itu sebagian dari iman “. Sejalan dengan firman Allah dan Hadits Nabi di atas, Hasan Al Bana berpendapat bahwa  menjadi seorang muslim yang baik , tidak berarti menjadi seorang yang anti nasionalisme, karena nasionalisme tidak bertentangan dengan ajaran Islam , melainkan keduanya bersenyawa.

            Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nasionalisme yang dimaksud mengandung nilai tentang kecintaan terhadap tanah air, mempererat persaudaraan , bela Negara untuk membebaskan diri dari kolonialisme . Nasionalisme dalam arti demikian , tentu tidak bertentangan dengan ajaran Islam.  Sebaliknya bahkan merupakan bagian dari Islam karena mencerminkan nilai-nilai universanya. Nasionalisme yang ditolak Islam adalah sikap fanatisme dan kecintaan yang berlebihan terhadap bangsa dan Negara sehingga menimbulkan banyak kemudharatan ( bahaya ) bagi pihak lain.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun