Rara mencintai hujan sebagai kehadiran Tuhan yang dapat di genggam dan tak sedikit pun ia menolak anugrah kehidupan.
Rara seringkali termenung bahkan hingga berjam-jam hanya demi memperhatikan butiran-butiran hujan yang jatuh bergelimpangan.
Rara dan hujan saling mengenal, diam-diam mereka jatuh cinta saling mengungkapkan rasa.
Pada tetes akhir di atas kelopak bunga atau di genangan air yang menyimpan kerinduan bersahaja masih di dapatinya mereka berpelukkan menikmati cinta.
Mereka mengamini anugrah yang di berikan Tuhan sekaligus bersyukur menjadi semesta kehidupan.
Maka Rara dan hujan mendendangkan kidung-kidung cinta demi Tuhan yang jantungnya penuh kemesraan.
Di bawanya hujan itu masuk ke dalam hatinya menjadi mimpi-mimpi indah dengan pelangi-pelangi merenda di antara doa.
Birahi mereka melahirkan kenangan-kenangan yang akan tumpah di sepanjang jalan, di sepanjang masa.
Dan kita akan menyimpan kisah mereka sambil menunggu hujan yang lain turun membawa rindu dan cinta.