Prabowo tentu saja tidak merendahkan orang Boyolali, tidak juga ia merendahkan profesi pengemudi ojek online. Kalau kita lihat video orasi yang bersangkutan, tone bicaranya juga sudah jelas dan kontekstual. Soal Boyolali, ia menyorot ruang-ruang mewah borjuis di Jakarta yang tentu bagaikan planet luar angkasa bagi warga proletar di Boyolali dengan "tampang" Boyolalinya. Anda tidak perlu setuju dengan premis ini, tapi ini poin yang cukup masuk akal.Â
Soal tukang ojek, ia menyorot bagaimana anak muda Indonesia belakangan ini sampai harus mengambil pekerjaan "hard labor" semacam menjadi pengemudi ojek online dan kesulitan mencapai pekerjaan yang lebih baik, yang mengandalkan kreativitas ketimbang kerja otot. Lagi-lagi, anda tidak perlu setuju dengan poin ini, saya juga tidak sepenuhnya setuju, tapi poinnya tetap masuk akal, disukai atau tidak.
Ada dua poin lagi yang masuk dalam catatan saya. Pertama, mereka yang berusaha membela Prabowo berargumen bahwa ucapan Prabowo harus didengar secara paripurna. Tekstualnya harus dibaca penuh, dan kontekstualnya harus dipahami menyeluruh. Mengutip Iqbal Aji Daryono, kita wajib berucap alhamdulilah, kubu ini sudah makin pintar. Bisa juga mereka menggunakan logika. Sekalipun tetap berhak ditertawakan karena ironi sikap muka dua mereka ketika lawan politik mereka juga pernah kepeleset lidah di depan kamera, videonya diedit pula ketika disebarkan provokator, dan kata-kata si pesakitan yang ada di video dicerabut dari konteksnya sekonyong-konyong. Tapi tidak apa, siapa tahu besok-besok bisa tambah pintar lagi.Â
Eits, anda pasti mau bilang Boyolali dan tukang ojek tidak bisa disamakan dengan penistaan agama yaa? Yo rapopo, pikir wae sakarepmu. Menurut saya siih, Ahok memang penista kok, tapi bukan penista agama, melainkan penista adab komunikasi.Â
Bingung? Ya gakpapa. Semoga besok anda tambah pintar jadi gak terlalu bingung.
Poin yang kedua, sebanyak apapun protes dari warga Boyolali, sebanyak apapun protes dari pengemudi ojek, bahkan sampai ada yang melakukan tuntutan hukum, toh akhirnya semua berakhir senyap juga. Tidak ada lawan politik Prabowo yang berminat menjadikan kepeleset lidah ini sebagai sarana untuk melakukan "political assasination", membunuh Prabowo dari pencalonan kepresidenan melalui jalur hukum. Kalau pembunuhan karakter ya sudah pasti. Mau gimana lagi, abis lucu sih. Hahaha. Akhirnya toh hanya jadi bahan becandaan di media sosial saja kan.Â
Artinya, kita bisa tidak memilih Prabowo sebagai preferensi politik, tapi kita memang tidak seharusnya menjegal langkahnya untuk berkontestasi dalam politik elektoral. Itu baru namanya kedewasaan dalam berpolitik, itulah cara menggunakan hak demokrasi kita dengan benar. Itulah yang membedakan kita dengan mereka. Dan itu yang harus kita lakukan di tahun 2019 nanti.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI