Mohon tunggu...
Hamdali Anton
Hamdali Anton Mohon Tunggu... Guru - English Teacher

Saya adalah seorang guru bahasa Inggris biasa di kota Samarinda, Kalimantan Timur. || E-mail : hamdali.anton@gmail.com || WA: 082353613105 || Instagram Custom Case : https://www.instagram.com/salisagadget/ || YouTube: English Itu Fun

Selanjutnya

Tutup

Hobby Artikel Utama

Apakah Anda Masih Membawa Pulpen dan Buku?

22 Maret 2024   11:20 Diperbarui: 22 Maret 2024   18:00 423
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (PEXELS/LILARTSY via KOMPAS.COM)

 

"Boleh pinjam pulpennya, Pak?"

Seorang pemuda meminjam pulpen saya saat berada di sebuah tempat fotokopi beberapa tahun yang lalu.

Pulpen yang bertengger di saku kemeja memang terlihat kentara. Mengundang orang lain untuk meminjam.

Saya tidak mempunyai pilihan lain selain meminjamkan. Sembari menunggu pengembalian pulpen, saya melirik ke jaket sang peminjam pulpen. Jaket almamater sebuah perguruan tinggi ternama di Samarinda.

Alamak, masa mahasiswa tidak punya pulpen! Ibarat serdadu tidak bawa senjata.

Dalam pengalaman kehidupan saat smartphone belum ada sampai menjamurnya ponsel pintar, memang sedikit sekali orang yang membawa pulpen dan buku. Mungkin kalau diadakan survei tidak resmi kecil-kecilan, dari sepuluh orang, mungkin cuma satu atau dua orang yang membawa.

Di era kekinian, mungkin ada anggapan jadoel atau kuno kalau masih membawa pulpen dan buku. "Ribet bawa pulpen dan buku. Kan bisa nulis di HP. Lebih simpel," kata D, seorang teman sewaktu melihat saya masih setia membawa pulpen dan buku.

Yah, memang ini masalah preferensi. Mengenai memilih yang mana adalah hak bebas setiap orang.

Menyikapi para peminjam pulpen, ada dua langkah yang saya lakukan:

1.Meminjamkan pulpen "kedua"

Saya menyediakan pulpen "kedua" di dalam tas untuk situasi-situasi yang mengundang para peminjam pulpen.

Tentu saja, pulpen "kedua" tidak sama merek dan tipenya dengan pulpen utama. Saya beli yang harganya lebih murah.

Memang agak merepotkan membuka tas dan mengeluarkan pulpen "kedua", tapi itu lebih baik daripada meminjamkan pulpen utama dan setelah itu mungkin kembali dalam kondisi macet tinta karena sebelum kembali ke saya, sang peminjam tak sengaja menjatuhkan pulpen ke lantai.

Dengan meminjamkan pulpen "kedua", pulpen utama tetap aman dan bebas dari transfer bakteri atau virus.

2. Ikhlas kalau kehilangan pulpen

Terkadang risiko selain pulpen macet tinta karena jatuh ke lantai (berkat keteledoran peminjam ^_^), risiko kehilangan pulpen bisa terjadi.

Lupa mengembalikan menjadi alasan terbesar mengapa kehilangan bisa terjadi.

Oleh karena itu, saya sudah menyiapkan mental jika pulpen hilang kembali. Saya tidak pernah lagi menagih kembalinya pulpen karena selain itu pulpen "kedua", terkadang saya mendapat cap pelit atau kikir perihal meminjamkan pulpen.

Bagi saya pribadi, selain saya masih menulis dengan pulpen, saya memperoleh pulpen dengan membelinya di toko buku atau tempat fotokopi. Saya mengeluarkan sejumlah uang untuk itu. Hilangnya pulpen seperti "membuang" uang atau hangus begitu saja sebelum menggunakan pulpen secara maksimal.

Namun ya itulah. Belum banyak orang menyadari pentingnya pulpen, nilai sebuah pulpen dalam keseharian. Kisaran harga di bawah sepuluh ribu untuk membeli sebuah pulpen mungkin dianggap tidak seberapa. Hilang satu, dengan gampangnya bisa membeli yang lain. Mungkin begitu pemikiran kebanyakan orang.

Yah, jadi saya ikhlas saja jika kehilangan pulpen setelah peminjaman. Menghargai nilai sebuah pulpen, menurut saya, masih minim dan belum membudaya di negeri +62.

Kebiasaan dalam keseharian

Sudah sejak lama saya suka membawa pulpen dan buku kemana pun saya pergi. Tentu saja, perkecualian pada saat mandi dan ketika berada di toilet. 

Memang awalnya agak merepotkan membawa dua benda ini, apalagi kebanyakan orang di era kekinian hanya membawa sebuah ponsel pintar dengan alasan kepraktisan. Satu alat sebagai sarana menulis, membaca, hiburan, dan lain sebagainya.

Namun saya tetap konsisten dengan pulpen dan buku meskipun penglihatan sudah mulai tak bersahabat. Selama mata masih mampu, saya akan tetap menulis di atas kertas dengan menggunakan pulpen.

Selain menyediakan waktu satu jam setiap hari untuk menulis, Saya juga menulis di kertas binder di saat waktu luang atau ketika ada kesempatan.

Misalnya, ketika saya menemani kakak perempuan saya ke rumah sakit mata, saya menemukan waktu untuk menulis. Kakak saya yang berobat ke dokter mata dan saya menunggu di luar ruang pemeriksaan.

Menulis. Itulah aktivitas pertama yang terbersit di benak. Saya mengeluarkan binder andalan, melepaskan beberapa kertas di dalamnya, dan mulai menulis sambil membaca artikel di smartphone.

Merangkai kata demi kata menjadi suatu kalimat utuh. Menyusun kalimat demi kalimat sehingga membentuk sebuah paragraf. Menggagas paragraf-paragraf dan mewujud satu tulisan bernas.

Rasa lega dan puas melihat hasil tulisan di atas kertas. Berbeda dengan hasil tulisan di gawai semisal laptop, tablet, atau ponsel pintar. Meskipun masih draf kasar yang jauh dari sempurna, di mata saya, bukti fisik berupa lembar-lembar kertas dengan tulisan lebih bermakna mendalam daripada tampilan ketikan di layar gawai. Feel-nya beda.

Rasa tangan memegang kertas-kertas hasil oretan adalah sensasi yang menyenangkan dan tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Tentu saja, ini murni opini subjektif saya. Setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda.

Akhir kata, menulis bisa terjadi dengan menggunakan berbagai alat. Mulai dari yang terlihat jadoel seperti pasangan pulpen dan kertas sampai yang paling modern seperti ponsel pintar dengan bentangan layar sebagai bidang menulis dan papan ketik virtual sebagai alat tulis.

Memilih alat tulis dan bidang menulis tergantung dari kenyamanan saat menulis. Setiap insan mempunyai alasan yang berbeda dalam menentukan pilihan. Sejauh tetap produktif menulis dengan pilihan "alat tempur"-nya, tentu saja tidak menjadi persoalan.

Yang jelas, saya tetap setia, sejauh mata masih mampu dan tangan masih ada untuk terus menulis dengan pulpen di atas kertas.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun