Kali ini aku akan membagi cerita tentang pengalamanku di dunia literasi yang sangat berkesan dan menyenangkan.
Aku beruntung karena lahir dan besar di kota, dimana rumahku memiliki akses yang dekat untuk ke perpustakaan, pun koleksi bacaannya cukup lengkap. Hanya dengan berjalan kaki, aku sudah bisa sampai ke fasilitas umum yang satu ini.
Aku masih ingat betul di tahun 2000n, saat aku masih duduk di sekolah dasar, perpustakaan adalah tempat 'bermain' favoritku. Selepas sekolah, aku biasanya pergi ke tempat baca ini bersama adikku.
Di sana, kami bisa memilih dan membaca banyak buku anak. Tempatnya nyaman, ber-AC, ada TV-nya pula. Tak heran bila aku dan adikku sangat menyukai tempat ini.
Bahkan sangking seringnya kami meminjam buku anak di perpustakaan daerah tersebut, aku dan adikku sampai memenangkan anggota perpustakaan terbaik.
Jujur saja, saat itu kami tidak tahu kalau ada program seperti ini. Dimana setiap anggota yang meminjam buku maka akan mendapat poin dan yang memperoleh poin terbanyak akan mendapatkan reward berupa piala dan buku gratis.
Berawal dari sini, aku dan adikku sangat menyukai literasi. Bahkan sangking sukanya, aku dulu sempat bercita-cita ingin jadi penulis. Kebetulan, mimpiku itu kini bisa menjadi ladang rezeki.
Namun sayang, pengalaman menyenangkan ini ternyata tidak dimiliki oleh semua anak. Aku begitu kaget saat mengunjungi salah satu daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Lombok Utara.
Setelah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Bima sudah tidak lagi berstatus 3T berdasarkan SK Mendes PDTT terbaru nomor 79 tahun 2019, tapi tidak dengan Lombok Utara. Kabupaten ini kini menjadi satu-satunya wilayah di NTB yang masih berstatus sebagai 3T.
Bagaimana tidak? Berbeda dengan kabupaten lain di Lombok yang sering aku kunjungi, Lombok Utara memang masih kurang memiliki fasilitas umum yang memadai, termasuk perpustakaan.