Mohon tunggu...
Dea
Dea Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi

Nothing but busy🤍 "Dunia terlalu indah untuk dilewatkan tanpa sebuah cerita visual. Mari berbagi makna dalam setiap kata yang berbisik."

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tidur Siang di Bawah Bayang

24 November 2024   10:59 Diperbarui: 24 November 2024   11:00 95
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Di bawah langit yang teduh,  

mentari merangkak lembut ke ujung atap.  

Angin siang membawa rindu,  

dalam bisikan daun yang pelan meratap.  

Mataku perlahan menutup,  

menyerah pada damai yang merayu.  

Kasur tua beraroma nostalgia,  

menjadi perahu ke lautan mimpi.  

Suara jauh anak bermain,  

menjadi nyanyian pengantar lena.  

Waktu berjalan di sela-sela bayang,  

perlahan, seakan lupa pada damba.  

Di dunia mimpi aku mengembara,  

melewati hutan penuh cahaya.  

Seekor burung berkicau halus,  

membawa pesan dari senja yang menunggu.  

Langit dalam mimpi terlukis biru,  

tanpa awan yang mengganggu pandangan.  

Angin menyapa lembut di pipi,  

seperti pelukan Ibu pada masa kanak-kanak.  

Kakiku melangkah tanpa beban,  

melewati lembah tempat bunga bermekaran.  

Setiap kelopak seperti rahasia,  

yang menanti disentuh oleh desir doa.  

Di kejauhan, ada sungai kecil,  

airnya mengalir seperti nada piano.  

Kicauan burung bersahutan,  

seolah-olah mereka tahu bahwa aku mendengar.  

Saat aku menengadah,  

dunia terasa tak berbatas.  

Semesta memberikan kebebasan  

yang hanya ada di sela-sela tidur siang.  

Namun, mimpi itu seperti pasir,  

perlahan memudar dari genggaman.  

Samar terdengar suara pintu diketuk,  

sebuah panggilan yang membawaku kembali.  

Aku terbangun dalam cahaya temaram,  

mentari sudah hampir pergi.  

Angin sore menggantikan angin siang,  

membisikkan ucapan selamat tinggal.  

Kasur tua itu menyimpan jejak mimpi,  

hangat di pipi, damai di hati.  

Dan aku tersenyum,  

karena tidur siang bukan sekadar rehat,  

melainkan perjalanan kecil  

menuju dunia yang hanya aku kenali.  

Di sela tumpukan pekerjaan yang menunggu,  

aku menyimpan kenangan singkat itu.  

Tidur siang adalah jeda waktu,  

tempat damai tumbuh seperti embun di pagi yang baru.  

Hingga malam datang mengetuk lagi,  

membawa janji mimpi yang lebih besar.  

Namun, tidur siang tetaplah berbeda,  

seperti menit kecil yang penuh makna.  

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun