Diunggulkan bakal melenggang ke babak final karena unggul dalam sejumlah aspek, Manchester United (MU) justru dibuat serasa babak belur oleh pemain-pemain Chelsea . Dini hari tadi, MU kalah 1-3 dari Chelsea di babak semifinal yang digelar di Stadion Wembley yang sepi.
Tim Setan Merah--julukan MU--bahkan sempat tertinggal 0-3 dari Chelsea melalui gol-gol Olivier Giroud di akhir babak pertama, Mason Mount di awal babak kedua, dan gol bunuh diri Harry Maguire di menit ke-74. MU memperkecil skor lewat penalti Bruno Fernandes di menit ke-85.
Karenanya, tidak berlebihan bila menyebut MU serasa babak belur di laga itu. Selaras dengan maknanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), babak belur diartikan lecet, bengkak dan tampak biru lebam karena terkena pukulan dan sebagainya. Tiga gol pemain-pemain Chelsea itu membuat pemain-pemain MU meninggalkan lapangan dengan perasaan terluka.Â
MU sebenarnya lebih diunggulkan
Hasil ini cukup mengejutkan bila melihat beberapa aspek yang menempatkan MU sebenarnya berpeluang besar untuk lolos ke final Piala FA. Aspek apa saja?
Pertama, MU unggul dari Chelsea dalam head to head di musim ini. Dari tiga pertemuan di musim 2019/20 ini, MU selalu menang atas tim biru London tersebut. MU dua kali menang di Liga Inggris dengan skor sempurna, 4-0 dan 0-2. Juga menang 2-1 di Piala Liga (EFL Cup).
Bahkan, perihal head to head ini, MU tidak pernah kalah dari Chelsea dalam dua tahun terakhir. Kali terakhir mereka kalah terjadi di musim 2017/18 silam.
Itu masih ditambah keunggulan MU dari Chelsea dalam head to head di Piala FA. Bahwa dari 16 pertemuan sebelumnya, MU menang sembilan kali dan Chelsea menang lima kali.
Aspek kedua, penampilan terkini MU lebih ganas dibandingkan dengan Chelsea. Di lima laga sejak masuk bulan Juli, MU tidak terkalahkan dengan meraih empat kemenangan. Chelsea? Mereka malah kalah dua kali dari lima laga di bulan Juli.
Tapi, aspek-aspek tersebut ternyata hanya pemanis laga. Sekadar data statistik belaka. Di pertandingan sebenarnya, Chelsea seolah ingin menunjukkan bahwa mereka tidak takut dengan MU seperti 'psywar' sebelum laga.
Ya, sebelum pertandingan semifinal tersebut, tensi memanas ketika pelatih Chelsea, Frank Lampard dan pelatih MU, Ole Gunnar Solskjaer terlibat "perang mulut".
Lampard menyebut timnya tidak takut kepada MU ataupun Bruno Fernandes. Namun, dia menyebut lebih takut kepada VAR (Video Assistant Referee) yang disebutnya beberapa kali menguntungkan MU.