Maksud saya, barang-barang yang dijual di tukang sayur itu kan untuk dimakan dan masuk ke perut. Apa iya 'berani' makan dari makanan hasil curian. Kalau memang berani berarti level kebusukan hatinya memang sudah akut.
Padahal, bila belanja secukupnya, itu palingan setara dengan harga bensin pertalite dua liter. Semisal belanja untuk membuat sayur bayam, atau sayur sop, atau tumis kangkung. Lalu jagung dan sayuran untuk dadar jagung plus tempe, itu palingan tidak sampai Rp 20 ribu.
Sementara orang yang membawa lari daging 2 kilo dan membayar dengan uang palsu tersebut, kok rasanya tidak mungkin tidak memiliki uang 20 ribu. Pencuri 'barang besar' biasanya karena seleranya memang itu. Artinya, dia terbiasa mampu membeli barang itu.
Pada akhirnya, dengan berbelanja di tukang sayur, itu tidak hanya membuat kita bisa lebih berhemat daripada makan di warung yang untuk seporsinya saja bisa setara berbagai macam sayuran. Pun, makanan sayur-sayuran ala rumahan, pastinya lebih sehat.
Dengan berbelanja di tukang sayur, kita juga belajar untuk jujur. Mau beli sayur-sayuran berapapun, ya harus dilaporkan ke penjualnya. Tidak ada yang disembunyikan. Termasuk bila menambah cabai dan tomat 3 ribu.
Apa iya, kita mau, bila makanan yang kita makan ternyata diolah dari bahan-bahan hasil mencuri. Hayuuk berlatih bersikap jujur dari hal paling sederhana. Salam.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI