Kenyataan itu terkadang pahit. Sulit diterima. Terlebih kenyataan setelah bertahun-tahun kita terbiasa meraih kejayaan, lantas berubah menjadi kegagalan demi kegagalan.
Namun, rasa pahit itu harus diterima sebagai 'cubitan' bahkan mungkin 'tamparan' untuk mengoreksi diri. Bahwa, ada yang salah dan tidak berjalan sesuai harapan sehingga akhirnya kita mendapati kenyataan pahit.
Kenyataan seperti itu yang agaknya tengah kita rasakan di bulutangkis kita. Utamanya di nomor ganda campuran. Dalam beberapa tahun terakhir--bahkan sebelum era dominasi ganda putra Marcus Gideon/Kevin Sanjaya--nomor ganda campuran menjadi yang terdepan dalam memberikan kebanggaan untuk Indonesia.
Kita punya pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang telah meraih banyak gelar bergengsi. Pencapaian tertinggi tentu saja ketika Owi/Liliyana memenangi medali emas Olimpiade 2016. Kita juga pernah punya Praveen Jordan/Debby Susanto yang pernah juara All England pada 2016 silam.
Namun, bak menaiki wahana rollercoaster, kisah ganda campuran Indonesia dalam persaiangan di level dunia, ternyata juga naik turun. Kita tidak selalu di atas. Terkadang juga meluncur ke bawah.
Ketika kecepatan dan ketahanan fisik Liliyana (33 tahun) dan Tontowi (30 tahun) mulai digerus usia sehingga kini sulit mengimbangi kecepatan ganda campuran top dunia yang usianya jauh lebih muda itulah tanda prestasi ganda campuran kita mulai menukik ke bawah seperti yang pernah saya ulas di artikel ini.
Dan memang, dalam beberapa turnamen top BWF World Tour ataupun di Asian Games 2018 lalu, Tontowi/Liliyana yang selama ini menjadi andalan, mulai kesulitan ketika menghadapi dua ganda campuran Tiongkok, juara dunia 2018 asal Tiongkok, Zheng Siwei (23 tahun) dan Huang Yaqiong (24 tahun) juga Juara Asia 2018, Wang Yilyu (23 tahun) dan Huang Dongping (23 tahun).
Imbasnya, kini kita harus membiasakan diri untuk legowo mendapati kabar final ganda campuran tidak lagi memanggungkan pemain Indonesia seperti dulu. Kita harus membiasakan diri dengan kabar hambar, ganda campuran Indonesia tereliminasi di babak-babak awal. Malah, kita harus mendapati kenyataan pahit, dua ganda campuran Tiongkok yang saya sebutkan di atas, kini mendominasi final. Seperti di final Kejuaraan Dunia dan Japan Open, mereka yang jadi lakon utama laga final. Sementara kita hanya menjadi penonton.
Toh, seperti lirik lagu "Life is a Rollercoaster" nya Ronan Keating, bahwa hidup itu memang seperti rollercoaster dan kita hanya perlu menaikinya. "We found love, so don't hide it. Life is rollercoaster. Just gotta ride it".
PBSI sebagai induk olahraga bulutangkis di Indonesia, sejatinya juga menyadari mulai menurunnya penampilan ganda campuran kita. Namun, tidak seperti rollercoaster yang ketika tengah berada di bawah mendadak kemudian berada di atas lagi, kenyataan di lapangan bulutangkis tidak bisa seperti itu. Butuh proses yang harus dijalani. Dan, hasilnya mungkin bisa sukses dalam waktu dekat, tetapi lebih sering butuh waktu lama.
Tontowi Ahmad Dipasangkan dengan Winny Oktavina di Chine Taipei Open 2018