Esensi puasa Ramadan seharusnya menjadi periode untuk mengendalikan diri. Kita dilatih untuk mengendalikan emosi, mengendalikan keinginan makan minum agar tidak berlebihan, termasuk mengendalikan pengeluaran. Â
Seharusnya, Ramadan membuat kita bisa lebih berhemat. Acuannya, bila di luar bulan puasa, kita bisa makan sehari dua atau tiga kali, belum nyemil atau merokok (bagi yang merokok). Sementara di bulan Ramadan, aktivitas makan, nyemil dan merokok itu hanya dibatasi setelah waktu berbuka sampai habis masa sahur.
Namun, yang terjadi, aneh tapi nyata, beberapa orang justru mengeluarkan lebih banyak uang alias lebih boros selama Ramadan.
Saya pernah mengalami kejadian aneh tapi nyata itu ketika masa-masa masih bujangan. Tepatnya ketika menjalani puasa sembari bekerja. Tanpa saya sadari, ada beberapa kebiasaan yang saya lakoni, justru menjadi penyebab boros di bulan Ramadan.
Umumnya, ketika waktu berbuka puasa, di kantor sudah tersedia takjil. Sekadar minuman segar dan juga makanan ringan seperti gorengan. Itu ibarat 'pemanasan' buka puasa. Setelah itu tentunya masuk pada acara inti, yakni berbuka puasa di warung terdekat. Dalam urusan berbuka ini, saya dulu cukup memperhatikan asupan yang saya konsumsi. Minimal ada sayur dan lauk yang bergizi. Tidak apa-apa harganya sedikit mahal. Daripada makan murah tapi 'asal-asalan'. Apakah ini penyebab boros?
Bukan. Bagi saya, menikmati berbuka puasa dengan menu terbaik demi "mengisi batere energi" agar kerja tetap prima, bukanlah perilaku boros. Justru itu sudah seharusnya. Malah yang tidak bagus itu pelit terhadap diri sendiri dengan hanya membeli makanan seadanya berharga murah yang malah bisa mengakibatkan sakit.
Sering "lapar mata" ketika pulang kerja
Nah, bagian yang bikin boros adalah setelah berbuka. Setelah seharian berpuasa, muncul godaan untuk nyemil. Jadilah aktivitas nyemil itu seolah menjadi rutintas yang dilakukan sembari bekerja. Tentu saja, untuk bisa menikmati camilan, ada harga yang harus dibayar.
Lalu, ketika pulang dari kantor, dalam perjalanan menuju rumah ataupun tempat kos ketika pernah ditugaskan di Jakarta, ini juga menjadi bagian "godaan boros" yang paling sulit dilawan. Saya dulu acapkali "lapar mata" setiap melintas di tempat tukang bakso, tahu telur ataupun mie goreng. Walau tidak setiap hari, tetapi cukup sering menuruti lapar mata itu dengan dalih untuk "makan malam".
Dan, ketika bangun sahur, yang namanya anak kos tentunya harus nyari makanan sahur di warung. Lagi-lagi ada uang yang harus dikeluarkan. Jadi dalam semalam, bisa tiga atau empat kali mengeluarkan uang untuk sekadar makan/nyemil. Sementara di luar Ramadan, godaan lapar mata ini malah tidak sedashyat seperti di bulan Ramadan.
Belum lagi bila frekuensi ajakan teman-teman untuk berbuka puasa bersama, cukup sering. Karena berbuka puasanya bersamanya memakai sistem BDD alias bayar dhewe-dhewe (membayar sendiri-sendiri), tentunya menambah pengeluaran. Walaupun, atas nama pertemanan, uang tidak terlalu menjadi perhitungan.
Terpikat diskon karena terbuai THR
Kebiasaan lainnya yang juga bikin boros adalah jalan-jalan ke mal bersama teman-teman kantor. Awalnya, niatnya sekadar jalan-jalan dan cuci mata untuk sejenak lepas dari penatnya kerjaan di kantor.
Namun, niat yang awalnya hanya jalan-jalan  itu ternyata bisa berubah ketika sudah berada di mal. Ketika baju-baju, t-shirt, celana dan sandal yang terasa bagus bila dipakai, terpampang tulisan diskon 50 persen ataupun promo beli 1 gratis 1. Bila sudah seperti itu, rasanya gatal untuk tidak mengambil barangnya lantas ditaruh ke kasir. Dan, terjadilah pengeluaran tak terduga.
Mengapa mudah untuk belanja barang yang di luar rencana? Sebenarnya bukan hanya karena godaan diskon yang memang membuat barang tersebut serasa murah dan akal pikiran pun secara tidak langsung berpikir "nggak apa-apa beli, toh harganya murah".
Lalu apa? Penyebabnya karena pikiran saya--mungkin juga sampean (Anda)--terbuai bahwa jelang akhir Ramadan, kita akan mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) dari kantor. Karena ada pikiran itu, kita merasa akan memiliki pendapatan dadakan sehingga menganggap pengeluaran pun menjadi tidak masalah. "Kan nanti dapat THR," pikir kita. Tanpa disadari itu menjadi pemborosan.
Pendek kata, menjadi bujangan di bulan Ramadan itu ternyata berisiko mendapat godaan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sepele tetapi berpotensi terhadap keluarnya duit dalam jumlah besar alias boros.
Menikah, pengeluaran akan lebih terencana
Hingga setelah menikah, kebiasaan-kebiasaan boros di bulan Ramadan yang dilakukan semasa bujang tersebut, mulai bisa dikurangi. Benarkah menikah bisa mengurangi bahkan menghilangkan sikap boros seperti judul tulisan ini? Bagi saya benar.
Sebab, dengan menikah, terlebih bila sudah tinggal berdua di rumah sendiri, kebiasaan-kebiasaan boros itu akan terkurangi dengan sendirinya. Contohnya kebiasaan makan sahur di warung, tentunya sudah tinggal kenangan karena kini bisa sahur di rumah. Termasuk juga kebiasaan "lapar mata" di malam hari, bisa mulai dihentikan. Sebab, sepulang kerja, istri sudah menyiapkan masakan di rumah. Bila sudah begitu, apa sih yang lebih nikmat dibanding makan berdua sama istri di rumah? Â
Meski tentunya tidak lantas bersikap pelit dengan selalu 'membiarkan' istri memasak. Saya termasuk suami yang terkadang "meliburkan" istri agar tidak memasak di hari tertentu. Sebab, sekali waktu, istri juga perlu dimanja dengan membawakan 'oleh-oleh' untuk di makan bersama di rumah atau makan bersama di luar rumah. Â Â
Pun dengan kebiasaan belanja dadakan di mal karena merasa sudah punya simpanan uang THR dari kantor, juga bisa diatur ulang. Istri yang hebat akan menjadi "penasihat keuangan" handal yang bisa mengerem kita untuk tidak mudah boros belanja kebutuhan yang tidak perlu. Termasuk dalam mengatur uang THR yang diterima dari tempat kita bekerja.
Selain itu, dari sudut pandang laki-laki, dengan sudah menikah, pola pikir kita tentunya sudah bukan lagi cara pikir seorang bujangan yang bisa semaunya. Namun, sudah sebagai seorang kepala rumah tangga yang tentu saja harus punya bekal cukup demi rencana-rencana jangka panjang. Rencana-rencana itulah yang bisa membuat kita tidak lagi boros tetapi lebih memprioritaskan untuk punya tabungan.
Tidak percaya bahwa menikah bisa mencegah kita dari perilaku boros selama bulan Ramadan? Monggo yang belum menikah silahkan dibuktikan. Silahkan menemukan istri yang benar-benar setara. Setara dalam semangat dan berikhtiar menjalani hidup, setara dalam prinsip hidup, juga setara dalam mencapai tujuan bersama. Salam. Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI