Okelah, mungkin bagi wisatawan Timteng, penyematan label syariah tersebut dirasa bagus dan menarik perhatian. Tapi, bagaimana ceritanya dengan wisatawan asal Eropa, Rusia, Amerika dan Australia?
Jangan sampai nanti, gegara penyematan label wisata halal-syariah di Labuan Bajo akan berpengaruh terhadap jumlah kunjungan sebagian besar wisatawan mancanegara.
Maka dari itu, sudah sepantasnya, saya pikir, label wisata halal-haram dan syariah- nonsyariah itu tidak perlulah di Labuan Bajo. Silakan dicoba di tempat lain.
Karena pada dasarnya, sejak dahulu kala pariwisata kami di sini sangat ramah dan amat permisif dengan insyan tualang. Tak ada pandang bulu, pun tidak ada perlakuan khusus bagi wisatawan di sini. Semuanya sama saja.
Kalaupun, misalnya, sekali lagi misalnya lho ini ya, dipaksakan menggunakan embel-embel agama, karena lebih mengedepankan ego, ya, kenapa musti menggunakan embel agama lain(?) Wong, bisa saja kami menyematkan embel agama mayoritas di sini.
Tapi, hal itu kami tidak lakukan, lantaran sejak awal pariwisata Labuan Bajo mengusung spirit wisata alam dan kearifan lokal. Itu berarti, siapapun yang mau berkunjung ya silakan. Semua diperlakukan sama rata.
Itulah nilai-nilai yang selama ini menjadi modalitas utama dalam pengembangan dan pembangunan pariwisata kami Labuan Bajo sehingga punya keunggulan dan 'nilai jual' di mata dunia.
Jadi, sekali lagi, akan sia-sialah perjuangan pemerintah, melalui Kemenparekraf bila sewaktu-waktu menerapkan wisata halal-syariah di Labuan Bajo. Karena sudah pasti kami masyarakat asli akan menolak dengan tegas, tentu saja!(*)
(Tulisan ini juga tidak bermaksud menyinggung individu, kelompok maupun agama manapun)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H