Mohon tunggu...
Gregorius Aditya
Gregorius Aditya Mohon Tunggu... Brand Agency Owner

Pengamat Industri Kreatif. Pebisnis di bidang konsultan bisnis dan pemilik studio Branding bernama Vajramaya Studio di Surabaya serta Lulusan S2 Technomarketing Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Saat ini aktif mengembangkan beberapa IP industri kreatif untuk bidang animasi dan fashion. Penghobi traveling dan fotografi Landscape

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur Artikel Utama

Operational Excellence: Mata Rantai yang Hilang dari Industri Kreatif

18 Maret 2025   22:15 Diperbarui: 19 Maret 2025   06:58 103
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi | Dok. SHUTTERSTOCK

Industri kreatif Indonesia telah tumbuh secara signifikan selama dekade terakhir, memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian negara. Dari animasi dan desain digital hingga kerajinan dan fashion tradisional, industri-industri ini mewujudkan warisan budaya dan inovasi modern negara ini yang kaya. Namun, terlepas dari potensinya, banyak bisnis kreatif yang menemui kesulitan dalam pertumbuhan bisnis dan daya saing global mereka.

Adalah bukan sebuah rahasia bahwa seorang pemilik studio kreatif, baik desain branding, animasi, hingga game sering dihadapkan klien yang bukan berasal dari industrinya sendiri. 

Saat berhadapan dengan klien tersebut, sering banyak sekali prosedur dan administrasi yang harus dilaksanakan. Tak jarang seorang pemilik studio bisa kebingungan atau menghadapi konflik akibat tidak diikutinya prosedur atau administrasi itu dengan benar atau terdapat miskomunikasi yang menyebabkan kesalahan pada taraf produksi pada usaha studionya. Kondisi ini dapat mengakibatkan antara sumber daya maupun hasil output entah berupa produk atau layanan tidak optimal.

Ilustrasi Kegiatan Usaha Kreatif. Sumber: oktra.co.uk
Ilustrasi Kegiatan Usaha Kreatif. Sumber: oktra.co.uk

Di satu sisi, dunia manajemen bisnis sendiri sebagai keilmuan yang telah meneliti bagaimana sebuah bisnis dapat berjalan, secara mendasar telah banyak meriset bagaimana ketika sebuah organisasi perusahaan bekerja dan bagaimana seorang pebisnis semestinya dapat menangani sebuah kesepakatan bisnis. 

Seorang pebisnis perlu terus berstrategi dan berupaya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam setiap proses bisnis untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan kualitas bisnisnya. Kondisi tersebut pada akhirnya melahirkan adanya model sistem yang dinamakan Operational Excellence (Keunggulan Operasional).

Keunggulan Operasional dikutip dari binus.ac.id  [1] merupakan kondisi dimana setiap pemilik usaha mengejar standar tertinggi dalam setiap aspek operasional perusahaan dalam rangka mencapai efisiensi dan produktivitas pada proses bisnis lewat pengurangan pemborosan, peningkatan kualitas, dan pengoptimalan penggunaan sumber daya untuk mencapai hasil terbaik dengan biaya yang minimal. Dalam hal ini, perusahaan berkomitmen untuk menyediakan produk atau layanan berkualitas tinggi yang konsisten. Namun bagaimana ini menjadi "bargaining" dalam sebuah bisnis melibatkan penerapan praktek terbaik dalam produksi, pengendalian kualitas, dan jaminan standar keandalan untuk memastikan kepuasan pelanggan yang tinggi. 

Apakah pemilik studio yang menekankan proses kreatif perlu akan manajemen keunggulan operasional? Secara mendasar, meskipun para pemilik studio kreatif sering kali berfokus pada hasil karya seni dan inovasi, tetapi tanpa adanya keunggulan operasional, mereka akan kesulitan untuk berkembang, mempertahankan profitabilitas, dan meraih kesuksesan jangka panjang. Tanpa adanya keunggulan ini, tatanan yang hanya ala kadarnya akan justru menghambat pertumbuhan dan daya saing global suatu studio kreatif.

Operational excellence sendiri masih amat kurang diterapkan di lapangan industri kreatif Indonesia. Adapun beberapa hal yang menyebabkannya terjadi adalah sebagai berikut:

Ilustrasi aspek-aspek dalam Operational Excellence. Sumber: symestic.com
Ilustrasi aspek-aspek dalam Operational Excellence. Sumber: symestic.com

1. Adanya Pertentangan Standarisasi vs. Kebebasan Kreatif

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun