Kebudayaan Jawa sangat erat dengan ilmu kebatinan yang seringkali dianggap sebagai inti pati Javanisme; gaya hidup orang Jawa ialah gaya hidup manusia yang memupuk "batinnya". Koentjaraningrat dalam Buku Kebudayaan Jawa menyebut kebatinan sebagai sistem keyakinan yang bertujuan mencapai keselarasan antara manusia dan kekuatan gaib di alam semesta. Menurutnya, kebatinan adalah upaya manusia untuk memahami tujuan hidupnya melalui penghayatan spiritual, dengan menghindari konflik antara kepentingan duniawi dan spiritual.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV, yang memiliki nama lahir Raden Mas Sudira, beliau merupakan Adipati keempat Mangkunegaran yang memerintah dari tahun 1853 sampai 1881. Mangkunegara IV dikenal sebagai pemimpin yang berkepribadian kuat, berjiwa pemimpin dan memiliki jiwa seni yang tinggi. Mangkunegaran IV dikenal sebagai pemimpin Jawa yang menerapkan kebatinan yang dipercayai tidak hanya untuk memperkuat spiritualitas individu tetapi juga sebagai landasan etika dalam pemerintahan. Selama masa pemerintahannya yang berlangsung selama 28 tahun, ia berhasil memajukan berbagai aspek di wilayah kekuasaannya, mencakup sektor pemerintahan, ekonomi, sosial, dan budaya.
Disamping hal tersebut, pada abad ke-19 beliau mulai mengamati adanya tanda-tanda penurunan moral di kalangan pemuda, terutama terkait sikap yang mencerminkan tata krama, sopan santun, serta kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Keadaan krisis semacam ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut karena akan memperburuk situasi dan kondisi kerajaan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Dari kondisi sosial keagamaan dan kondisi sosial ekonomi pada masa tersebut, timbullah dorongan Mangkunegara IV untuk menulis sebuah serat yang berisi lima tembang yang menjelaskan mengenai sembah raga, cipta, jiwa dan rasa. Ide dan gagasan KGPAA Mangkunegara IV dalam menulis karya sastra yang disebut Serat Wedhatama.