Setiap libur semester kuliah, aku menyempatkan diri datang berkunjung ke sini. Rasanya begitu nyaman bisa tinggal bersama Nenek untuk beberapa hari ke depan. Belajar masak, membuat kue, merawat tanaman di halaman belakang, dan masih banyak lagi hal yang tak bisa dilakukan di rumah sendiri.
Sore tadi ketika aku baru datang dan sedang mengambil tas dari dalam mobil, aku melihat seseorang di seberang jalan masuk ke salah satu rumah persis di depan rumah Nenek. Dia laki-laki muda bertubuh tinggi dengan rambut gondrong yang menutupi telinganya. Bertahun-tahun aku liburan di sini, rasanya baru melihat orang itu. Jarang sekali ada orang seumuranku yang tinggal di daerah ini.
"Vidya, apa kabar, Nak?" tanya Nenek mendekat ke arahku sembari melebarkan tangannya.
"Hai, Nek. Aku baik, kok," jawabku cepat membalas dekapan Nenek.
Selanjutnya aku memberi salam pada Tante Ayu. Usia kami hanya berjarak 10 tahun, sehingga terkadang orang-orang menganggap aku sebagai adiknya.
Bersama Papa, kami semua beranjak ke dalam dan berkumpul di ruang tengah. Posisi barang-barang sedikit berubah sejak terakhir aku ke sini beberapa bulan lalu. Di dalam, kami membicarakan banyak hal. Mulai dari kabar masing-masing, urusan kuliahku yang akan memasuki semester 3, hingga masalah asmara. Aku tidak berkomentar banyak dan hanya tertunduk malu, sementara tiga orang ini malah lanjut membicarakannya dengan penuh canda.
***
Malamnya setelah Papa pulang, aku dan Tante Ayu sibuk di dapur menyiapkan makanan. Sementara Nenek duduk di kursi tengah sambil menonton televisi.
Terdengar suara Nenek berbicara dengan seseorang. Aku membawa kaki melangkah menjauhi dapur sambil membawa adonan telur yang sedang dikocok dalam mangkok. Dari kejauhan, seorang laki-laki bertubuh tinggi berdiri di depan pintu sembari memberikan sesuatu untuk Nenek.
Dia orang yang tadi kutemui di depan rumah.
"Salam ya buat Eyangmu," kata Nenek meski suaranya tak begitu jelas.