Mohon tunggu...
Gilang Dejan
Gilang Dejan Mohon Tunggu... Jurnalis - Sports Writers

Tanpa sepak bola, peradaban terlampau apatis | Surat menyurat: nagusdejan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Marquee Players ala PSM Makassar

6 April 2017   13:12 Diperbarui: 6 April 2017   13:19 644
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bola. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Tim berjulukan pasukan Ramang atau Juku Eja ini tak mau kalah dalam mempersiapkan diri sebelum terjun ke kompetisi resmi Liga 1 yang kabarnya akan bergulir pertengahan bulan April ini. Tidak terlalu banyak evaluasi yang dilakukan pelatih asal Belanda, Robert Rene Albert, Ia hanya menambal beberapa posisi yang rentan seperti pertahanan yang masih rapuh di turnamen panjang TSC 2016 lalu.

Selebihnya PSM hanya menambah satu pemain depan berpaspor Australia dan Brazil, Reinaldo Elias, yang didatangkan manajemen atas dasar kebutuhan strategi. Sejak transisi Luciano Leandro ke Robert Rene Albert di TSC 2016 lalu, Syamsul Chaerudin dkk memperlihatkan progress yang baik dari segi kolektivitas tim maupun masing-masing individu. Eks pelatih Arema Indonesia ini kerap mengorbitkan pemain muda dan menjadi salah satu pelatih yang mengecam regulasi pemain U-23.  Mengapa demikian?

Pasalnya, Ia tidak membenarkan pembinaan pemain muda dengan cara paksaan seperti itu. Toh, secara alamiah, jika ada pemain muda yang berkualitas, mereka akan muncul sendiri tanpa diminta bahkan dipaksa. Bukannya Ia tidak setuju atau berkeberatan dengan aturan itu namun ada efek negatif jika aturan kontroversi itu diteruskan di Liga 1.

Kesuksesan Rene Albert membawa Arema Indonesia juara Liga Indonesia di musim 2009/10 adalah buktinya. Saat itu, Singo Edan bukanlah tim yang bertabur bintang. Hanya ada segelintir nama beken yang terkombinasi dengan pemain muda asal Malang. Jadi, bisa ditarik benang merahnya ketika operator masih saja keukeuh menggulirkan regulasi tersebut. Tentu saja akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat dalam perebutan meraih tim inti, pemain muda nantinya akan merasa di anak emaskan oleh regulasi tanpa ditempa oleh perjuangan terlebih dahulu.

Di sisi lain, sosialisasi mengenai regulasi marquee player masih simpang siur. Jika sebelumnya, klub hanya diperbolehkan mengontrak satu marquee player namun seiring berkembangnya waktu kini klub boleh mengontrak lebih dari satu, ada selentingan kabar jika batas marquee player adalah lima pemain.

Jika kabar tersebut benar, bukan tidak mungkin bagi klub yang sanggup menampung pemain dengan harga selangit minimal tiga, bagaimana dengan regulasi tiga pemain muda saat pertandingan nanti. Sangat disayangkan jika seorang marquee player atau pemain asing bahkan sekadar pemain senior yang sarat pengalaman duduk di bangku cadangan. Regulasi menjadi timpang tindih, disatu sisi marquee player bagus buat bisnis klub namun di sisi lain, bagaimana cara mensinkronkannya dengan regulasi pemain muda dan regulasi lainnya?

Bagi Rene Albert, marquee player disikapi dengan bijaksana. Bukan karena PSM belum menggelontorkan dana untuk merekrut pemain dengan banderol wah. Toh, Rene mengaku bahwa dirinya sudah punya marquee player sejak jauh-jauh hari. Tim juku eja menjadi salah satu tim yang tak pusing mencari konduktor di lapangan tengah, sejak awal Rene bergabung dengan PSM, Ia sudah punya pemain vital itu. Di luar pemain lokal macam Syamsul Bachrie, Rasyid Bakrie, atau pun Rizky Pellu.

Ia membawa dua pemain asal Belanda, Ronald Hikpoors dan Willem Jan Pluim. Namun yang bertahan hingga kini adalah eks pemain yang pernah mentas di kasta tertinggi Liga Belanda, Eredivisie. Wiljan Pluim. PSM mengambil langkah berani dengan mendaftarkan Pluim sebagai salah satu pemain dengan label bintang istimewa, meski sedikit dipaksakan. Rekam jejak Pluim memang sangat menjanjikan.

Sebelum memilih Indonesia sebagai pelabuhan baru karirnya, pemain jangkung berpostur 191 cm ini sudah merasakan sengitnya persaingan kompetisi teratas Eredivisie bersama Vitesse (2008/2011), Roda JC (2011/2015), hingga PEC Zwolle (2012/2013).

Pria Belanda kelahiran 1989 ini bukan hanya piawai dalam mengatur ritme permainan, namun juga akurat dalam memberi umpan manja kepada para penyerang Pasukan Ramang. Sebagai bukti, Ia menjadi kunci sukses kebangkitan tim asal Angin Mamiri di putaran kedua Torabika Soccer Championship (TSC) 2016.

Statistik menarasikan, akurasi tembakan Pluim ke gawang lawan mengenai angka 80 persen, dribble suksesnya mencapai 86 persen. Oleh karena itu, posisi Pluim hampir pasti tak tergantikan di poros lini tengah. Ia bisa bersanding dengan siapapun, baik itu Rizky Pellu, Syamsul Bachrie, maupun, Rasyid Bakrie. Salah satu pemain yang bisa dibilang sebagai penghapus dahaga kerinduan terhadap playmaker klasik macam Ronald Fagundez (Persik Kediri), atau pun Patrick Viera (Arsenal).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun