Mohon tunggu...
Gilang Dejan
Gilang Dejan Mohon Tunggu... Jurnalis - Sports Writers

Tanpa sepak bola, peradaban terlampau apatis | Surat menyurat: nagusdejan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Memahami Sikap Defensif Ketua PSSI

24 November 2018   12:53 Diperbarui: 2 Desember 2018   02:31 895
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: bolasport.com/Mohammad Robbani

Kalimat sarkas "Kosongkan GBK" mulai mereda tepat satu hari jelang pertandingan Timnas Indonesia vs Filipina. Sayangnya, hal tersebut terjadi bukan karena pecinta sepak bola nasional memaafkan Timnas yang tak lolos ke fase semifinal Piala AFF 2018, melainkan berkat pernyataan ketua umum PSSI, Edy Rahmayadi, yang tengah viral menyoal kegagalan Timnas, "wartawan harus baik, timnasnya akan baik".

Beberapa media pun mulai menuliskan permohonan maafnya dengan satir. Pandit Football.com menulis permohonan maaf dengan sarkasme ciamik sedang Mojok.co dengan bahasa nakal dan sentilan khasnya menerbitkan artikel terbaru dengan judul "Lord Edy Rahmayadi, Maaf Jika Kami Kurang Baik Jadi Wartawan".

Bahkan salah satu media luar pun menyoroti pernyataan Gubernur Sumatera Utara sekaligus Ketua Umum PSSI serta Pembina PSMS Medan itu. Fox Sports Asia menulis sebuah artikel dengan judul: "AFF Suzuki Cup 2018: PSSI Chairman Edy Rahmayadi states ridicolus reason for Indonesia national team's failure".

Jurnalis Fox Sports Asia yang menulis artikel tersebut, Sarthak Sharma, mengungkapkan rasa herannya atas pernyataan Edy Rahmayadi. "Rahmayadi can be seen talking to reporters and when asked about the team's lack-lustre display but this time around, he had a specific answer in mind. Rahmayadi's comments can be literally translated to: If Indonesia media/press is good, their national team will be good as well. Basically taking a jibe at the media for the bad press tahat the Indonesian side appear to be getting of late".

Selain itu, media olahraga terbesar asal Amerika Serikat pun menyatakan kebingungan yang serupa lewat sebuah cuitan di Twitter. "Wartawannya baik, Timnasnya baik. Apakah kalian setuju dengan pernyataan ketum PSSI, tentang alasan kegagalan Timnas Indonesia dalam ajang Piala AFF 2018?", tulis FoxSports dengan Bahasa Inggris.

Ini bukan kali pertama Edy Rahmayadi menciptakan polemik dengan wartawan olahraga. Beberapa waktu silam, Ia menciptakan kemelut dengan wartawan Kompas TV dan Tirto.

kaltim.tribunnews.com
kaltim.tribunnews.com
Pernyataan Kontroversi Edy Rahmayadi

"Apa hak Anda menanyakan hal itu?" ungkapan tersebut sontak menjadi viral, apalagi sesi wawancara interaktif yang dilakukan oleh Kompas Tv itu ditayangkan secara langsung. 

Aiman Witjaksono yang ketika itu tengah membahas topik terkait tewasnya supporter Persija Jakarta, Haringga Sirla, mengajukan sebuah pertanyaan mengenai rangkap jabatan sebagai Gubernur Sumut dan Ketum PSSI, apakah hal tersebut memengaruhi caranya mengambil kebijakan, Edy langsung super defensif dengan mengatakan kata-kata tersebut.

"Bukan Hak Anda juga bertanya seperti itu", lanjut Edy kepada Aiman dengan nada kesal. Eks panglima tinggi Mabes AD ini tercatat tak hanya sekali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Dengan topik serupa, terkait kematian supporter sepakbola, jurnalis Tirto sempat mewawancarai Edy pada 13 Oktober 2017: "Sejak 2016 ada setidaknya 9 supporter tewas baik di dalam maupun luar stadion. Apa tanggapannya?"

Ketum PSSI yang ketika itu masih menjabat panglima Kostrad, menjawab begini: "Tanggapannya saya mau mundur saja jadi ketua umum PSSI! Kamu (saja yang) jadi ketua PSSI, mudah-mudahan tidak ada yang tewas, deh." Kemudian saat ricuh tiket Piala AFF 2016 di lapangan Kostrad Jakarta, satu lagi wartawan Tirto kena semprot: "Orang sedang sibuk untuk martabat bangsa, kamu malah sibuk dengan menyudutkan orang," ujarnya.

Tak berhenti sampai disitu, Edy terus menciptakan komentar yang unik. Di Medan, ia kembali melontarkan komentar yang membingungkan publik. Saat itu dikatakannya kalau kursus kepelatihan yang tengah dijalani Luis Milla adalah pendalaman ilmu, selain itu ia juga sempat menjelaskan bahwa coach itu adalah pelatih.

"Kabarnya (Luis Milla) tanya ke saya, orang saya ketua PSSI-nya kok. Luis Milla sedang melakukan pendalaman ilmu (kursus lisensi kepelatihan), sebagai kewajiban seorang coach. Coach itu pelatih, dan dia baru selesai. Hari ini insya Allah sudah sampai (di Indonesia)," kata Edy saat diwawancarai stasiun televisi CNN Indonesia, Kamis (18/10).

Berkat pemilihan kosakata yang membingungkan untuk menjelaskan kursus lisensi kepelatihan UEFA yang tengah di jalani Luis Milla Aspas di Spanyol itulah netizen memviralkan guyonan "Coach itu Pelatih".

Menyikapi Strategi Catenaccio Ketua PSSI

Di Eropa catenaccio atau strategi bertahan ala Gi Azzuri mulai dianggap klise. Bahkan di Italia sendiri. Tak banyak tim yang menggunakan pola tiga bek yang konon menjadi dasar strategi tersebut. 

Terakhir ada nama Antonio Conte yang menggunakan ideologi ini semasa menangani Juventus serta di Piala Eropa 2016 bersama Timnas Italia dan di Liga Primer Inggris 2016/17 bersama Chelsea. Sukses? Ya, bisa dikatakan demikian tapi hanya untuk sesaat.

Pertahanan kokoh yang dibangun Conte secara sistematis pun bisa roboh. Apalagi dinding PSSI yang coba dibangun Edy Rahmayadi. Dari pernyataaan-pernyataan yang kontroversial itu, kita bisa simpulkan jika Edy yang berkomunikasi dengan gaya militer seolah melindungi diri dan mencari kambing hitam dari bobroknya organisasi.

Sebelum gaduh kalimat "Wartawannya harus baik" Edy sempat enggan mengomentari soal kegagalan Timnas Indonesia ke babak selanjutnya. Ia berkata demikian kepada CNN Indonesia: "Capek saya, saya sedang capek." ujarnya, Jumat (23/11).

Jika dirunut, dari pernyataan yang pernah dikeluarkan Edy mulai dari "Apa hak Anda menanyakan itu?", "Coach itu Pelatih", "Anda saja yang jadi ketua PSSI", sampai yang terakhir "Wartawan baik". Edy jelas tak punya maksud apapun selain membela diri agar posisinya aman sebagai ketua umum. Kini catenaccio gubahan Edy mulai mudah terbaca.

Suko Widodo, seorang pengamat komunikasi dari Universitas Airlangga menilai gaya komunikasi Edy memakai pendekatan apa yang disebut "komunikasi dengan tujuan yang mengendalikan" (controlling style). Sebagai mantan panglima Kostrad, komunikasi ini lazim ditemukan di kalangan militer.

"Mestinya (sebagai pejabat publik) tidak begitu," ujar Widodo kepada Tirto. "Tetapi seringkali tekanan masalah membuat naluri defensif dengan memperlihatkan pesan yang sifatnya instruktif." Lanjut Widodo.

Data source: Fox Sports, Fox Sports Asia, Tirto, dan CNN Indonesia.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun